TRANS TV - Tradisi Memanggil Hujan Suku Dayak, Ketika Sungai Menjadi Altar Doa | Di tengah teriknya kemarau yang mengeringkan alur sungai dan mengurangi pasokan air bersih, masyarakat suku Dayak di pedalaman Kalimantan memiliki ritual adat yang kaya akan kearifan ekologis, yaitu tradisi memanggil hujan suku Dayak melalui Menuba atau Tuba Riam. Berbeda dari cara penangkapan ikan biasa, tradisi ini menggunakan racun alami dari ekstrak akar tuba (Derris elliptica) dan sering kali dilakukan secara besar-besaran sebagai ungkapan doa untuk memohon hujan kepada Sang Pencipta (Ranying Hatalla Langit).
Akar kayu yang ditumbuk di tepian sungai menghasilkan getah putih yang secara perlahan melumpuhkan ikan tanpa merusak ekosistem air, metode tradisional yang terbukti ramah lingkungan. Dalam pandangan adat, riak air yang tercipta dari gerakan ribuan warga yang turun ke sungai diyakini dapat menyapa alam bawah sadar dan menarik awan penyejuk ke langit, menjadikan tradisi memanggil hujan suku Dayak bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga dialog spiritual antara manusia dan alam semesta.
Nilai terdalam dari tradisi Menuba ini terletak pada keterikatan spiritual dan hukum adat yang mengelilinginya, sebuah kearifan lokal yang telah teruji oleh waktu. Masyarakat hanya diizinkan menangkap ikan berukuran sedang hingga besar, sementara ikan kecil dan induk yang sedang bertelur harus dilepaskan kembali demi menjaga keberlanjutan hayati sungai.
Sebelum racun akar disebar, para tetua adat memimpin ritual doa keselamatan, memohon agar bumi kembali dibasahi air hujan untuk memulihkan ladang dan hutan yang kering, sebuah praktik yang mencerminkan kesadaran ekologis yang mendalam. Tradisi yang diwariskan ini menunjukkan bahwa bagi masyarakat Dayak, menghadapi krisis iklim bukan hanya soal perhitungan matematis, tetapi juga tentang penghormatan yang mendalam terhadap keseimbangan alam dan nilai-nilai kebersamaan dalam komunitas.**