TRANS TV – Tradisi Ngamuk-Amukan adalah Ritual Pembersihan Diri dari Energi Negatif | Di Banjar Buliang, Desa Adat Padangbulia, Kabupaten Buleleng, Bali, tradisi Ngamuk-amukan muncul sebagai ritual yang kaya akan mistis dan simbolisme lokal, diadakan setiap lima tahun sekali saat perayaan Galungan. Berlawanan dengan anggapan umum yang mengaitkan istilah ini dengan kemarahan yang tak terkendali, ritual ini sebenarnya adalah bentuk atraksi sakral untuk membersihkan diri dan wilayah desa dari pengaruh energi negatif.
Dengan menggunakan obor kraras, yaitu gulungan daun pisang kering yang dibakar, puluhan pemuda desa saling memukulkan obor berapi ke tubuh satu sama lain dalam suasana magis yang diiringi oleh irama gamelan. Api yang menyala dan menyentuh kulit para peserta diyakini tidak akan menyebabkan luka bakar permanen, berkat perlindungan spiritual dari Dewa Brahma dan doa-doa yang dipanjatkan oleh para pemangku adat sebelum ritual Ngamuk-amukan dimulai. Keunikan tradisi ini terletak pada keyakinan bersama bahwa api yang berkobar itu bukanlah ancaman, melainkan sarana pembersih yang membawa berkah dan keselamatan bagi seluruh warga desa.
Bagi masyarakat Padangbulia, Ngamuk-amukan lebih dari sekadar pertunjukan fisik atau keberanian; ini adalah manifestasi nyata dari konsep Tri Hita Karana yang menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Tradisi perang api ini berfungsi sebagai penyucian buana agung (alam semesta) dan buana alit (diri manusia) menjelang hari-hari sakral dalam kalender Hindu Bali.
Keaslian ritual Ngamuk-amukan yang dijaga tanpa campur tangan komersialisasi yang berlebihan memberikan pengalaman budaya yang mendalam bagi para pelancong yang berkesempatan menyaksikannya, menunjukkan bagaimana kearifan lokal Buleleng tetap kuat meski di tengah modernisasi pariwisata Pulau Dewata. Ngamuk-amukan mengajarkan bahwa di balik nyala api dan pukulan obor, terdapat nilai-nilai luhur tentang keberanian, kepercayaan, dan kebersamaan yang diwariskan oleh para leluhur sebagai benteng identitas budaya yang tak ternilai.**