TRANS TV - Tradisi Ngurek di Bali, Wujud Komitmen Masyarakat Karangasem Seraya | Semburat sakralitas masyarakat adat Bali begitu kuat terlihat dalam tradisi Ngurek di Bali, sebuah ritual yang bukan hanya sekadar pemenuhan Komitmen atau janji, tetapi juga persembahan spiritual yang sangat penting bagi warga keturunan Karangasem Seraya di Desa Banyupoh, Gerokgak, Buleleng. Ritual yang tergolong ekstrem ini melibatkan tindakan menancapkan, bahkan menghujamkan bilah keris tajam ke dada atau bagian tubuh sendiri.
Tradisi Ngurek di Bali biasanya dilaksanakan sebagai bentuk penyerahan diri dan pembayaran ikrar keluarga, terutama saat melaksanakan rangkaian panca yadnya seperti upacara telu bulanan (bayi berusia tiga bulan), ritual potong gigi (metatah), hingga upacara kematian. Masyarakat percaya bahwa mengabaikan Komitmen yang telah diucapkan bisa mendatangkan kemalangan bagi seluruh anggota keluarga, sehingga pelaksanaan tradisi Ngurek di Bali menjadi sebuah kewajiban sakral yang tidak bisa ditawar.
Prosesi magis tradisi Ngurek di Bali dimulai dengan alunan instrumen gamelan yang berirama kencang, mengantar para pelaku ritual, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua, masuk ke dalam kondisi kesurupan. Dalam keheningan spiritual ini, rasa takut seolah menghilang, bilah keris yang ditekan kuat ke kulit tidak meninggalkan luka terbuka atau rasa sakit sedikit pun, sebuah fenomena yang hingga kini masih menjadi misteri.
Ritual tradisi Ngurek berakhir seketika saat nada gamelan dihentikan, menunjukkan betapa eratnya hubungan antara alunan musik dan kondisi spiritual para peserta. Setelah itu, pemangku adat memercikkan air suci untuk memulihkan kesadaran para peserta, yang kemudian dilanjutkan dengan ritual penyucian jiwa raga di tepi pantai. Tradisi Ngurek di Bali ini adalah kekayaan budaya Nusantara dalam wujud kedalaman nilai-nilai spiritual.**