
TRANS TV - Ketika kita membahas Korea Selatan, yang mungkin langsung terlintas di pikiran adalah K-Pop atau gadget-gadget canggih. Tetapi untuk benar-benar memahami negara ini, kita perlu melangkah jauh ke belakang. Salah satu tempat terbaik untuk memulai adalah Gyeongbokgung, istana utama Dinasti Joseon yang berdiri megah sejak tahun 1395.
Di balik keindahan arsitekturnya, istana ini menyimpan cerita tentang luka dan kebanggaan. Ia pernah hancur saat penjajahan Jepang, tetapi kemudian dibangun kembali sebagai simbol ketahanan bangsa.
Dari sini, jejak sejarah Korea Selatan membawa kita ke Panmunjom, di perbatasan DMZ. Tempat ini adalah pengingat nyata dari Perang Korea yang berakhir pada tahun 1953, bukan dengan perdamaian, melainkan dengan gencatan senjata. Di sana, ketegangan dan harapan saling berbaur. Sejarah Korea Selatan tak bisa dipisahkan dari luka perang dan tekad untuk bangkit dari puing-puing kehancuran.
Sebenarnya kekuatan Korea Selatan tidak hanya berasal dari semangat bertahan, tetapi juga dari akar budaya yang mendalam. Contohnya, Gyeongju, kota yang sering disebut sebagai museum tanpa atap. Di sini, kejayaan Kerajaan Silla masih terasa melalui Kuil Bulguksa dan candi Seokguram.
Menariknya, nilai-nilai lama itu tetap dipertahankan. Orang-orang Korea Selatan masih tinggal di hanok, desa tradisional, sambil melesat menjadi raksasa teknologi. Mereka sangat memahami bahwa maju tidak berarti melupakan masa lalu. Sejarah Korea Selatan adalah kisah tentang bangsa yang berlari cepat ke depan, tetapi tetap menoleh ke belakang dengan penuh hormat.**