Samawa

Jujur dalam Berdagang, Saat Keuntungan Dunia Menjadi Jembatan Surga

Samawa
CLOSE
SHARE

TRANS TV - Jujur dalam Berdagang, Saat Keuntungan Dunia Menjadi Jembatan Surga | Dalam dunia ekonomi modern yang penuh persaingan, kejujuran sering kali dianggap sebagai penghalang untuk meraih keuntungan. Namun, bagi seorang Muslim, integritas dalam berbisnis seperti jujur dalam berdagang, bukan hanya sekadar prinsip etika, melainkan juga jalan menuju kemuliaan di akhirat. 

Islam memandang jujur dalam berdagang sebagai hal yang sangat terhormat, bahkan setara dengan derajat para nabi. Rasulullah SAW menjanjikan pahala bagi mereka yang tidak curang dalam timbangan atau kualitas barang, seperti yang beliau sabdakan, "Pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para nabi, orang-orang shiddiq, dan para syuhada" (HR. Tirmidzi). 

Janji ini menegaskan bahwa jujur dalam berdagang memiliki nilai yang sama pentingnya dengan perjuangan di bidang dakwah lainnya, karena melibatkan pengendalian ego dan ketamakan demi keberkahan jangka panjang.

Di sisi lain, kejujuran adalah kunci utama untuk membuka pintu rezeki yang berkelanjutan. Bisnis yang dibangun di atas kebohongan mungkin bisa memberikan keuntungan cepat, tetapi akan kehilangan "ruh" dan kedamaian. Allah SWT melalui Al-Qur’an dengan tegas memperingatkan para pelaku ekonomi untuk tidak merugikan orang lain dengan praktik curang, seperti dalam firman-Nya, "Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi" (QS. Al-Mutaffifin: 1-3). 

Dengan menjaga amanah, seorang pedagang sebenarnya sedang membangun aset kepercayaan yang jauh lebih berharga daripada uang, sekaligus mengundang rida Allah yang menjamin bahwa harta tersebut tidak akan habis meski terus dibagikan.