
TRANS TV - Hakikat Beribadah kepada Allah Bukan untuk Kemauan Duniawai Semata | Mari kita jujur pada diri sendiri. Pernahkah kita mendadak rajin tahajud, bersedekah lebih banyak, atau puasa sunah, tapi di hati kecil bergumam, "Agar bisnis lancar" atau "Supaya cepat dapat jodoh"? Dalam praktik sehari-hari, pola ibadah transaksional seperti ini sering muncul tanpa disadari.
Ulama mengingatkan, saat ibadah dijadikan alat tawar-menawar untuk urusan dunia, kita berisiko terjebak dalam syirik tersembunyi atau syirik khafi. Hakikat beribadah kepada Allah seharusnya tak ternodai pamrih. Allah SWT tegas mengingatkan dalam QS Hud ayat 15-16, "Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya... di akhirat mereka tidak memperoleh apa-apa kecuali neraka." Ayat ini ibarat tamparan halus, bila shalat, sedekah, dan puasa cuma kita anggap sebagai investasi untuk keinginan dunia, maka nilai spiritualnya bisa hangus.
Lantas, bagaimana seharusnya? Hakikat beribadah kepada Allah yang sesungguhnya terletak pada niat yang lurus, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya..." (HR. Bukhari-Muslim).
Ini berarti, kita mendirikan shalat semata-mata karena itu perintah-Nya, bukan agar dikira alim. Kita bersedekah tulus karena ingin membantu, bukan supaya dipuji dermawan. Bukan berarti kita dilarang berdoa memohon rezeki atau kesehatan. Namun, itu semua harus diposisikan sebagai anugerah tambahan, bukan tujuan utama.