Islam Itu Indah

Wisata Bernilai Ibadah Bukan Sekadar Jalan-Jalan, tapi Merenungi Ciptaan Allah

Video Thumbnail
SHARE

TRANS TV - Wisata Bernilai Ibadah Bukan Sekadar Jalan-Jalan, tapi Merenungi Ciptaan Allah | Wisata bernilai ibadah adalah perspektif yang sering kali terlewatkan saat seseorang merencanakan liburan, bepergian, atau sekadar menjelajahi tempat-tempat baru. Dalam Islam, perjalanan bukan hanya sekadar aktivitas untuk bersenang-senang, menghabiskan waktu, atau melarikan diri dari rutinitas sehari-hari. Ini adalah kesempatan untuk merenungkan kebesaran Allah yang terlihat dalam keindahan alam, kehidupan masyarakat, dan berbagai tanda kekuasaan-Nya yang mungkin selama ini kita abaikan.

Dalam QS Al-Mulk ayat 15, Allah SWT berfirman, "Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan." Ayat ini mengingatkan kita bahwa kita diizinkan untuk menjelajahi bumi, menikmati rezeki yang ada, dan pada saat yang sama menyadari bahwa setiap perjalanan hidup kita pada akhirnya akan kembali kepada Allah. Oleh karena itu, perjalanan wisata bisa menjadi momen untuk bersyukur, merenungkan ciptaan-Nya, mengenal budaya baru, mempererat silaturahmi, dan melihat kehidupan orang lain dengan sudut pandang yang lebih bijaksana.

Agar perjalanan kita tidak hanya menjadi kesenangan duniawi, seorang Muslim perlu menanamkan nilai ibadah dalam setiap langkah yang diambil. Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya." (HR Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907). Hadis ini menegaskan bahwa aktivitas yang pada dasarnya diperbolehkan, termasuk berwisata, bisa menjadi bernilai pahala jika dilakukan dengan niat yang baik dan tidak melanggar aturan agama. Misalnya, bepergian untuk menyenangkan keluarga, mengunjungi kerabat, mengenal budaya, menikmati keindahan alam sambil bersyukur, atau mengambil pelajaran dari kehidupan masyarakat di tempat yang kita kunjungi.

Pahalanya tentu bukan hanya karena seseorang mengunjungi tempat wisata, tetapi lebih kepada niat dan kebaikan yang menyertai perjalanan tersebut. Menjaga salat, tidak mengabaikan kewajiban, mencari makanan halal, menjaga kehormatan diri, menghormati adat setempat, dan tidak merusak lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab seorang Muslim saat bepergian. Inilah yang membedakan wisata bernilai ibadah dari sekadar perjalanan yang hanya mencari kesenangan tanpa memperhatikan rambu syariat.

Dengan begitu, liburan tidak perlu dipertentangkan dengan ibadah. Seseorang bisa menikmati pantai, mendaki gunung, menjelajahi kota tua, atau mengunjungi tempat-tempat bersejarah, sambil mengisi perjalanan dengan rasa syukur dan perbuatan baik. Karena, perjalanan yang paling berarti bukan hanya yang menghasilkan banyak foto dan kenangan, tetapi juga yang membawa pulang hati yang lebih bersyukur dan amal yang lebih baik.**

Photo by Oleg Dykunets