Islam Itu Indah

Cara Menyikapi Perbedaan yang Menjadi Kunci Ukhuwah tapi Sering Dilupakan

Video Thumbnail
SHARE

TRANS TV - Cara Menyikapi Perbedaan Menjadi Kunci Ukhuwah tapi Sering Dilupakan | Perbedaan suku, latar belakang, dan sudut pandang adalah bagian dari takdir yang dirancang untuk memperkaya interaksi sosial kita. Namun, seringkali keberagaman ini ternoda oleh ego individu yang memicu prasangka buruk, pencarian kesalahan orang lain, dan aksi saling menggunjing (ghibah). Allah SWT dengan tegas mengingatkan kita tentang hal ini dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 12, "Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain."

Melalui larangan yang jelas ini, syariat mengajarkan kita bahwa cara terbaik untuk menyikapi keragaman bukanlah dengan menyamakan semua pemikiran, tetapi dengan menjaga hati kita tetap bersih dari prasangka negatif yang bisa merusak ukhuwah. Inilah dasar cara menyikapi perbedaan yang berlandaskan pada kebersihan batin, bukan hanya kesepakatan di permukaan.

Membangun persatuan di tengah perbedaan memerlukan ikatan batin yang dipandu oleh rasa persaudaraan dan kasih sayang antar sesama muslim. Menyatu dalam perbedaan bukan berarti menghilangkan keunikan masing-masing, melainkan saling mendukung dan menguatkan, seperti satu struktur bangunan yang kokoh. Komitmen untuk bersatu ini juga disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, "Seorang mukmin bagi mukmin lainnya adalah bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya."

Dengan menempatkan prasangka di bawah naungan husnudzon dan mengutamakan semangat saling melengkapi, perbedaan tidak lagi menjadi penyebab perpecahan, melainkan menjadi pilar yang mendukung kedamaian dalam hidup bermasyarakat. Cara menyikapi perbedaan yang benar adalah dengan menumbuhkan sikap saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan, sehingga keberagaman berubah menjadi kekuatan kolektif yang membangun.**

Photo by Pavel Danilyuk