TRANS TV - Menasihati Anak Tanpa Marah, Kunci Pengasuhan yang Menenangkan | Menasihati anak tanpa marah ataupu mengontrol emosi saat mengoreksi perilaku anak sering kali menjadi ujian terberat bagi para orang tua di tengah himpitan stres pengasuhan sehari-hari. Padahal, membentak atau meluapkan kemarahan dapat memengaruhi perkembangan anak. American Academy of Pediatrics (AAP), dalam pernyataan kebijakan Effective Discipline to Raise Healthy Children yang terbit di jurnal Pediatrics pada Desember 2018, menyatakan bahwa strategi disiplin aversif, termasuk membentak dan mempermalukan anak, hanya minimal efektif dalam jangka pendek dan tidak efektif dalam jangka panjang. Temuan ini sekaligus menegaskan bahwa menasihati anak tanpa marah bukan sekadar pilihan gaya pengasuhan, melainkan kebutuhan yang berdasar.
AAP juga merujuk riset yang menunjukkan bahwa memukul, membentak, atau mempermalukan anak dapat menaikkan hormon stres dan mengubah arsitektur otak, serta bahwa disiplin verbal yang keras dapat memicu lebih banyak masalah perilaku dan gejala depresi pada remaja, bahkan dari orang tua yang hangat. Perlu dicatat, sebagian temuan tentang otak, seperti berkurangnya materi abu-abu, berkaitan dengan hukuman fisik, bukan bentakan.
Dr. Laura Markham, bergelar PhD psikologi klinis dari Columbia University dan penulis buku Peaceful Parent, Happy Kids, mengajarkan pendekatan pengasuhan berbasis hubungan yang tidak menghukum. Gagasannya sejalan dengan konsep regulasi emosi bersama (co-regulation), kemampuan anak untuk menenangkan diri masih berkembang sepanjang masa kanak-kanak dan remaja, sehingga respons tenang orang tua menjadi bantuan penting agar anak bisa menyerap pesan yang ingin disampaikan. Karena itu, praktik menasihati anak tanpa marah sesungguhnya bertumpu pada kesiapan orang tua mengelola emosinya sendiri lebih dahulu.
Penerapan disiplin positif tanpa amarah dapat dimulai dengan menggeser pendekatan dari konfrontasi menuju koneksi emosional terlebih dahulu. Pada praktiknya, ini berarti berbicara dengan nada lembut, menyejajarkan pandangan mata dengan anak, dan mengakui perasaan yang sedang mereka rasakan sebelum menyampaikan aturan. Langkah-langkah ini adalah saran praktis yang selaras dengan prinsip disiplin positif, bukan temuan satu studi tertentu.
Alih-alih berteriak memberikan instruksi, orang tua dapat menjeda sejenak untuk menenangkan diri sebelum merespons, lalu menyampaikan batas aturan secara tegas namun ramah, sejalan dengan pola asuh otoritatif yang dikenal dalam psikologi perkembangan. Tujuannya, seperti ditekankan AAP, adalah membantu orang tua menjaga sikap tenang dan terkendali. AAP menganjurkan strategi disiplin positif karena efektif mengajarkan anak mengelola perilakunya dan mendukung perkembangan yang sehat. Bukti bahwa teknik tertentu menghasilkan ketahanan mental dan ikatan kelekatan hingga dewasa masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Meski demikian, kemampuan menasihati anak tanpa marah tetap menjadi keterampilan pengasuhan yang layak dilatih setiap hari, karena buahnya terasa dalam jangka panjang bagi tumbuh kembang buah hati.**