TRANS TV - Mandi Air Garam, Apa Manfaat Ritual Relaksasi ini? | Di luar perannya yang utama di dapur, tradisi mandi air garam, terutama menggunakan garam Epsom, yang merupakan magnesium sulfat) dan garam laut, kini semakin populer sebagai bagian dari perawatan diri. Namun, untuk kulit, hasilnya masih campur aduk. Mandi dengan larutan garam Laut Mati yang kaya magnesium dilaporkan dapat memperbaiki fungsi lapisan pelindung kulit dan mengurangi peradangan pada kulit kering atopik, tetapi perlu dicatat bahwa temuan ini berasal dari garam Laut Mati, bukan Epsom salt biasa.
Ketika berbicara tentang eksim, penelitian ilmiah belum bisa membuktikan efektivitas Epsom salt, dan beberapa orang malah mengalami iritasi. Selain itu, Epsom salt tidak mengandung kalium, karena garam ini hanya terdiri dari magnesium dan sulfat. Klaim bahwa garam menarik racun dari tubuh juga tidak didukung oleh bukti ilmiah yang kuat, karena proses pembuangan zat sisa dilakukan oleh hati dan ginjal. Mengenai efeknya pada bakteri penyebab jerawat atau kecerahan kulit, belum ada studi yang mengukurnya.
Mandi air garam atau berendam dalam air garam juga tidak selalu ramah bagi kulit. Orang dengan kulit sensitif bisa merasakan perih, dan bagi kulit yang terluka atau berair, sebaiknya hindari perendaman. Sebaiknya coba dulu pada area kecil, dan konsultasikan dengan dokter kulit jika kamu memiliki eksim atau kondisi kulit lainnya. Manfaat yang paling terasa justru berasal dari air hangatnya. Tinjauan terhadap beberapa studi menunjukkan bahwa mandi 1 hingga 2 jam sebelum tidur dengan air pada suhu sekitar 40 hingga 42,5°C dapat meningkatkan kualitas dan efisiensi tidur, karena tubuh melepaskan panas dan suhu inti pun turun.
Air hangat memang bisa meningkatkan aliran darah ke otot yang lelah, jadi mandi air garam bisa membantu meredakan gejala nyeri otot setelah berolahraga (DOMS). Namun, perlu dicatat bahwa sebagian besar manfaat ini lebih karena air hangatnya, bukan garamnya. Masih ada perdebatan mengenai seberapa efektif penyerapan magnesium melalui kulit saat berendam. Tinjauan yang dilakukan oleh Gröber dan rekan-rekannya (2017) di jurnal Nutrients menyimpulkan bahwa rekomendasi untuk magnesium transdermal belum memiliki dukungan ilmiah yang kuat.
Studi yang sering dijadikan rujukan, yang dilakukan di University of Birmingham dengan 19 partisipan, bahkan tidak pernah dipublikasikan di jurnal peer-review. Yang sudah terbukti efektif dalam mengurangi DOMS adalah magnesium yang dikonsumsi secara oral, bukan dari mandi garam. Jadi, sebaiknya kita melihat mandi air garam sebagai ritual relaksasi, bukan sebagai pengganti suplemen magnesium atau pengobatan. Bagi mereka yang memiliki penyakit jantung, tekanan darah rendah saat berdiri, atau kondisi serupa, sebaiknya menghindari air yang terlalu panas dan tidak berendam terlalu lama.**