Tanah Air Beta

Tradisi Pengambilan Sarang Engang Berbekal Obor dan Keberanian

Video Thumbnail
SHARE

TRANS TV - Tradisi Pengambilan Sarang Engang Berbekal Obor dan Keberanian | Di balik keindahan alam pedesaan Jawa Barat, khususnya di Desa Mekarsari, tradisi pengambilan sarang engang (tawon) masih dijaga dengan baik sebagai warisan kearifan lokal yang penuh dengan keterampilan. Proses pengambilannya bukanlah hal yang sepele; aktivitas ini memerlukan keberanian dan keahlian khusus dari para sesepuh atau warga yang berpengalaman.

Kegiatan atau tradisi pengambilan sarang engang ini dilakukan pada malam hari untuk mengurangi risiko serangan dari tawon yang agresif, dan mereka menghindari penggunaan lampu terang yang bisa membuat koloni panik, hanya mengandalkan cahaya obor yang redup. Para pemburu menggunakan obor yang terbuat dari tongkat panjang yang diolesi bensin untuk menghasilkan asap yang membius area sekitar sarang, sementara warga lainnya harus merunduk dan tetap waspada. Keberhasilan menurunkan sarang besar yang menggantung itu bukan hanya soal mendapatkan makanan, tetapi juga merupakan pementasan keterampilan etno-entomologi tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Setelah sarang tawon berhasil dievakuasi, proses selanjutnya dalam tradisi pengambilan sarang engang ini adalah membongkarnya dengan hati-hati untuk mengeluarkan endog engang, sebutan lokal untuk larva dan kepompong tawon yang kaya nutrisi dan memiliki tekstur lembut. Proses pengolahan kuliner yang ekstrem ini memerlukan ketelitian tinggi, larva harus dikeluarkan satu per satu dari rongga sarang sebelum dibersihkan dan digoreng dalam minyak panas. Jika teknik penggorengannya tidak tepat, larva bisa dengan mudah meletus dan hancur.

Setelah matang dan dibumbui dengan penyedap sederhana, sajian larva engang goreng ini menawarkan rasa gurih, renyah, dan berlemak, mirip dengan keripik yang biasanya dinikmati dengan sambal. Lebih dari sekadar camilan unik dari pedesaan, konsumsi sengat dan larva serangga ini mencerminkan pemanfaatan sumber protein alami yang berprinsip keberlanjutan, yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sunda.**