TRANS TV - Suku Dayak Tomun di Desa Kinipan Lamandau, Penjaga Hutan dan Warisan Budaya | Di Desa Kinipan, Kecamatan Batang Kawa, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, pengunjung akan merasakan atmosfer yang berbeda, bukan sekadar keindahan alam yang memanjakan mata, tetapi perasaan berdiri di atas tanah yang dijaga oleh keyakinan yang telah berusia ratusan tahun. Di sinilah Suku Dayak Tomun mendiami aliran Sungai Lamandau, menyimpan warisan budaya yang tidak mudah ditemukan di tempat lain. Keseharian mereka dijalankan di atas tiga penyangga yang tidak pernah goyah, hutan sebagai sumber kehidupan, kepercayaan Kaharingan sebagai panduan spiritual, dan bahasa Tomun sebagai identitas yang dijaga dari kepunahan.
Yang membuat Suku Dayak Tomun unik adalah sejarah mereka yang tak terduga, tradisi lisan meyakini mereka adalah keturunan bangsawan Datuk Perpatih Nan Sabatang dari Kerajaan Pagaruyung, Sumatera Barat, sejak abad ke-14. Bukti persilangan budaya ini masih terlihat hingga kini. Rumah adat mereka beratap melengkung menyerupai Rumah Gadang Minangkabau dengan tanduk kerbau di puncaknya. Desa Kinipan Lamandau menjadi saksi bisu akulturasi budaya yang langka di pedalaman Kalimantan, menunjukkan jejak sejarah yang masih hidup hingga saat ini.
Sebagai benteng pertahanan hutan hujan tropis, Desa Kinipan Lamandau dan Suku Dayak Tomun memegang peran penting di tengah ekspansi industri monokultur. Bagi masyarakat setempat, hutan bukan sekadar komoditas ekonomi atau hamparan pohon, melainkan entitas sakral yang menyatu dengan ruang hidup, spiritualitas, dan identitas kultural mereka. Data lapangan menunjukkan bahwa wilayah adat Kinipan menyimpan keanekaragaman hayati yang kaya, dari pohon-pohon endemik raksasa hingga satwa langka. Melalui kearifan lokal, mereka membagi wilayah hutan ke dalam zona-zona lindung tradisional, membuktikan konservasi terbaik lahir dari budaya lokal.
Di sisi spiritual, Suku Dayak Tomun memiliki ritual kematian Babukung, tarian dan doa yang dipercaya menyatukan roh leluhur dengan keluarga yang ditinggalkan, digelar setiap tahun di Nanga Bulik sejak 2014. Desa Kinipan Lamandau adalah laboratorium hidup tentang bagaimana manusia, alam, dan keyakinan dapat berjalan beriringan dalam harmoni yang otentik dan penuh makna.**