Tanah Air Beta

Tradisi Kolecer, Membangun Kincir Angin Raksasa Penanda Musim Tanam

Video Thumbnail
SHARE

TRANS TV - Tradisi Kolecer, Membangun Kincir Angin Raksasa Penanda Musim Tanam | Saat angin kemarau berhembus kencang melintasi perbukitan Jawa Barat, langit Parahyangan seolah berubah menjadi panggung pertunjukan yang penuh suara dan keajaiban. Di sinilah tradisi Kolecer, permainan kincir angin raksasa yang menjadi ciri khas masyarakat Sunda, kembali hidup sebagai ritual musiman yang mengikat hubungan antara manusia dengan alam dan kekuatan angin yang tak terlihat. Kolecer berfungsi sebagai penunjuk waktu alami bagi para petani.

Lebih dari sekadar mainan anak-anak, Kolecer adalah sebuah mahakarya aerodinamika tradisional yang dirakit dengan ketelitian tinggi menggunakan bilah bambu pilihan atau kayu jati yang kuat. Ketika baling-baling kayu berukuran antara dua hingga enam meter dipasang di atas pohon tinggi atau tiang bambu yang panjang, tiupan angin kencang akan memutarnya, menghasilkan suara dengungan berat yang dikenal sebagai ngahiung. Bagi masyarakat agraris Sunda, suara ini menjadi pertanda alam untuk membaca arah angin dan menandakan datangnya musim tanam baru.

Di balik kemeriahan kompetisi pada tradisi Kolecer yang berlangsung di banyak daerah di Jawa Barat, proses pembuatannya memerlukan waktu berminggu-minggu yang penuh dengan kearifan lokal. Menentukan titik keseimbangan bilah, memilih bambu gombong, hingga memasang bobos (penghasil suara dengung) memerlukan ketekunan yang hanya dikuasai oleh para sesepuh kampung. Tradisi Kolecer menjadi jembatan sosial yang menyatukan warga desa dari berbagai generasi.

Di tengah gempuran hiburan digital, festival Kolecer yang riuh di atas bukit Parahyangan mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati lahir dari kesederhanaan, angin yang berembus bebas, dan kebersamaan yang dirawat dengan tulus. Tradisi Kolecer adalah warisan budaya yang harus dilestarikan sebagai simbol harmoni antara manusia, alam, dan tradisi.**