TRANS TV - Menggunakan Susuk Bukanlah Jalan Pintas, Melainkan Pintu Kemurkaan | Di tengah dinamisnya tuntutan sosial modern, hasrat instan untuk tampil memikat, berwibawa, atau sukses dalam perniagaan sering kali menggiring sebagian orang ke jalan pintas yang keliru, salah satunya melalui pemasangan susuk. Praktik memasukkan benda asing, baik berupa emas, berlian, maupun jarum samber lilin, ke dalam jaringan kulit ini lazimnya disertai ritual magis yang melibatkan bantuan entitas jin atau makhluk gaib. Hukum menggunakan susuk dalam syariat Islam adalah haram dan termasuk tindakan yang sangat tercela karena melibatkan unsur kemusyrikan.
Upaya memanipulasi daya tarik fisik atau mencari perlindungan gaib demi motif duniawi bukan sekadar tindakan tabu, melainkan pintu gerbang menuju dosa terbesar, yaitu syirik. Al-Qur'an secara tegas mengingatkan bahwa menyandangkan ketergantungan hati kepada selain Allah SWT adalah kezaliman teologis yang fatal, sebagaimana termaktub dalam Surah Luqman ayat 13, "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." Hukum menggunakan susuk ditegaskan sebagai larangan karena mengandung unsur penyekutuan terhadap Allah.
Dari sudut pandang fikih kontemporer, hukum menggunakan susuk juga dikategorikan sebagai bentuk tamyiz atau tamimah (jimat) yang diharamkan secara mutlak, karena mengandung unsur penipuan terhadap publik (tadlis) serta merusak anugerah ciptaan Allah yang sudah sempurna. Keterikatan spiritual pada jimat dan susuk ini justru akan mendatangkan kesengsaraan batin yang panjang dan menjauhkan pelakunya dari perlindungan ilahi serta rahmat-Nya, sebagaimana ditegaskan dalam hadis riwayat Ahmad.
Ketegasan hukum menggunakan susuk digariskan langsung oleh Rasulullah SAW dalam hadis shahih riwayat Imam Ahmad, di mana beliau bersabda, "Barangsiapa yang menggantungkan jimat, maka ia telah berbuat syirik." (HR. Ahmad). Oleh karena itu, menjemput rezeki, jodoh, maupun kehormatan harus ditempuh melalui jalur yang diridai Allah, dengan memperbaiki akhlak, mempercantik batin melalui takwa, dan bertawakal penuh kepada Sang Pencipta.**