TRANS TV - Bahaya Lisan, Bukan Sekadar Caci Maki, Tapi Bisa Jadi Kedzaliman | Dalam interaksi sosial masyarakat modern, kata-kata sering kali berubah menjadi senjata yang tajam, mampu merobek kehormatan dan melukai perasaan orang lain. Bahaya lisan ini tidak bisa dianggap remeh, karena Islam dengan tegas melarang penggunaan lidah untuk mendzalimi orang lain melalui sumpah serapah, makian, atau ucapan yang merendahkan martabat kemanusiaan.
Larangan etis ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an Surah An-Nisa ayat 148, "Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) secara terang-terangan kecuali oleh orang yang dizalimi. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." Bahaya lisan yang merusak ini bukan hanya pelanggaran etika sosial, tetapi juga bentuk kedzaliman yang mencoreng kesucian hubungan antar sesama hamba Allah dan merusak timbangan amal pelakunya di akhirat.
Bahaya lisan menjadi semakin mengerikan ketika ucapan kasar memicu penderitaan batin yang melahirkan doa dari hati orang yang terdzalimi. Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam hadis riwayat Imam Al-Bukhari, "Dan takutilah doa orang yang dizalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah." Bahaya lisan bisa berbalik menjadi bencana bagi pelakunya, karena doa orang yang teraniaya tidak terhalang oleh apapun.
Menjaga lisan dari sumpah serapah dan ucapan buruk bukan hanya soal kesopanan publik. Ini adalah bentuk perlindungan diri yang paling mendasar agar hidup kita tidak hancur akibat hantaman doa-doa malam dari jiwa-jiwa yang telah kita dzalimi. Bahaya lisan adalah pengingat yang harus selalu diingat oleh setiap Muslim agar tidak merugikan diri sendiri, baik di dunia maupun di akhirat.**