Favorite TV Program

BASA-BASI: Bagaimana Cara Berpelukan yang Membuat Makin Lengket?

Video Thumbnail
SHARE

TRANS TV - Bagaimana Cara Berpelukan yang Membuat Makin Lengket? | Di balik pelukan yang terlihat sederhana dan sering kali dianggap sepele, ada mekanisme biologis yang jauh lebih rumit dan mendalam daripada yang kita duga. Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Biological Psychology oleh Light, Grewen, dan Amico dari University of North Carolina pada tahun 2005, yang telah dirujuk lebih dari 690 kali dalam literatur ilmiah internasional, menunjukkan bahwa perempuan yang lebih sering memeluk pasangannya memiliki kadar oksitosin basal yang lebih tinggi. Kadar oksitosin yang tinggi ini terbukti berperan sebagai mediator parsial bagi rendahnya tekanan darah istirahat mereka, yang menunjukkan bahwa pelukan memiliki dampak langsung pada kesehatan fisik jangka panjang.

Di sisi lain, studi Grewen et al. (2003) yang dipublikasikan dalam jurnal Behavioral Medicine menemukan bahwa pasangan yang berpegangan tangan selama sepuluh menit dan diakhiri dengan pelukan 20 detik sebelum menghadapi situasi stres seperti pidato publik menunjukkan reaktivitas tekanan darah sistolik, diastolik, dan detak jantung yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan kelompok yang tidak melakukan kontak fisik. Temuan ini menegaskan bahwa sentuhan fisik antara pasangan bukan hanya sekadar ungkapan kasih sayang, tetapi juga merupakan intervensi fisiologis yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan secara klinis. Dr. John Gottman, seorang psikolog klinis terkemuka dan pendiri The Gottman Institute  yang telah meneliti lebih dari 3.000 pasangan selama empat dekade, secara tegas merekomendasikan pelukan 20 detik dan ciuman enam detik sebagai ritual koneksi harian bagi pasangan. Dalam pernyataannya, Gottman menyatakan, "Pelukan 20 detik atau ciuman enam detik itu adalah momen yang terasa sangat berbeda. Rasanya seperti pulang ke rumah."

Apa yang membuat ritual sederhana ini begitu kuat secara ilmiah adalah konsistensi temuan yang muncul dari berbagai metode penelitian. Dalam sebuah uji klinis acak yang dilakukan oleh Dreisoerner et al. (2021) dengan melibatkan 159 partisipan sehat, ditemukan bahwa baik kelompok yang menerima pelukan maupun yang melakukan sentuhan menenangkan mandiri sama-sama mengalami penurunan signifikan dalam respons kortisol terhadap stres dibandingkan dengan kelompok kontrol. Para peneliti mencatat bahwa efek pengurangan stres ini terjadi melalui dua jalur, efek fisiologis langsung dari stimulasi taktil pada reseptor saraf-C di kulit, serta aktivasi psikologis yang memberikan rasa aman dan rasa memiliki yang terkait dengan dekapan fisik. Studi ekologi naturalistik oleh Packheiser et al. (2024) semakin memperkuat bahwa efek pelukan dalam melindungi dari stres paling terasa pada hari-hari yang penuh konflik antarpersonal, saat pasangan paling membutuhkan koneksi fisik, tetapi sering kali enggan untuk saling mendekap.

Dari semua bukti ilmiah yang ada, satu kesimpulan yang tak terbantahkan muncul, pelukan yang tulus dan cukup lama bukan sekadar gestur romantis yang manis. Ini adalah protokol kesehatan yang bisa diakses oleh siapa saja, kapan saja, tanpa biaya, sebuah intervensi sederhana yang terbukti sangat efektif. Ironisnya, ritual yang begitu sederhana ini sering kali menjadi yang pertama kali terlupakan saat tekanan hidup paling berat dan kita sangat membutuhkan kehangatan. Padahal, di saat-saat itulah pelukan sangat dibutuhkan sebagai pengingat bahwa kita tidak sendirian dalam menghadapi segala beban dan tantangan.**