TRANS TV - Kedudukan Ibu Sambung dalam Islam, Ladang Pahala, Bukan Stigma Sosial | Dalam dinamika keluarga modern, kedudukan ibu sambung sering kali terjebak dalam stigma sosial yang tidak adil dan tidak berdasar. Islam justru melihat hubungan ini sebagai ladang pahala yang sangat luas dan penuh berkah. Hubungan antara ibu sambung dan anak sambung sebenarnya tidak dibangun di atas ikatan darah atau keturunan, melainkan di atas dasar ketakwaan dan kasih sayang yang tulus.
Kedudukan ibu sambung yang bijak akan memandang anak suaminya bukan sebagai beban atau orang asing yang harus dijauhi. Sebaliknya, ia melihat mereka sebagai amanah mulia dari Allah SWT yang harus dijaga hak-haknya, dididik dengan baik, dan dicintai dengan sepenuh hati. Kewajiban untuk berbuat baik dan merawat mereka adalah wujud nyata dari keimanan seseorang kepada Allah.
Rasulullah SAW memberikan teladan yang mulia tentang pentingnya mengasuh anak yang membutuhkan kasih sayang, seperti yang beliau sabdakan dalam hadis sahih riwayat Imam Bukhari, "Aku dan orang yang mengasuh anak yatim kedudukannya di surga seperti ini," sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya serta sedikit merenggangkan keduanya. Dengan semangat hadis ini, kedudukan ibu sambung yang dengan tulus merawat dan mencintai anak sambungnya, terutama jika anak tersebut telah kehilangan ibu kandungnya, memiliki peluang spiritual yang sangat besar untuk mendekatkan diri kepada Rasulullah SAW di surga kelak.
Oleh karena itu, menghadapi kehadiran anak sambung dalam kehidupan rumah tangga memerlukan hati yang lapang, yang bersumber dari ajaran Al-Qur'an. Kedudukan ibu sambung menuntutnya untuk selalu mengutamakan keadilan dan menolak prasangka buruk terhadap anak-anak yang bukan darah dagingnya. Kehadiran ibu sambung seharusnya menjadi pelindung, pembimbing yang bijaksana, dan sosok yang bisa membawa energi positif bagi seluruh anggota keluarga. Islam sangat melarang segala bentuk kezaliman, perbedaan kasih sayang yang bisa merusak psikologis anak, atau mengabaikan hak-hak mereka untuk tumbuh dan berkembang.
Allah SWT telah mengingatkan kita dengan tegas dalam Al-Qur'an Surah An-Nisa ayat 36, "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh..." Ayat ini mengajarkan bahwa kewajiban untuk berbuat baik tidak hanya terbatas pada orang tua kandung, tetapi juga meluas kepada mereka yang membutuhkan kasih sayang, termasuk anak sambung.
Ketika seorang ibu sambung mampu menyingkirkan ego pribadinya dan memperlakukan anak sambungnya dengan ketulusan yang sama seperti kepada anak kandungnya, ia tidak hanya sedang membangun keluarga yang harmonis dan penuh cinta. Ia juga sedang mengukir namanya sebagai salah satu wanita mulia di sisi Allah SWT. Inilah hakikat kedudukan ibu sambung dalam Islam yang sesungguhnya.**