Favorite Culinary

IKON KULINER: Dodol Susu Khas Boyolali, Lembut, Gurih, Anti Milk Dumping

Video Thumbnail
SHARE

TRANS TV - Dodol Susu Khas Boyolali, Lembut, Gurih, Anti Milk Dumping | Menjelajahi Boyolali ternyata lebih dari sekadar menikmati keindahan hijau perbukitan di lereng Gunung Merbabu yang menyejukkan mata. Kabupaten ini juga kaya akan cita rasa yang berasal dari kearifan lokal masyarakatnya. Sebagai daerah penghasil susu sapi terbesar di Jawa Tengah, Boyolali memproduksi puluhan ribu liter susu setiap harinya, dan berhasil mengubah pandangan bahwa susu segar hanya bisa dinikmati sebagai minuman biasa. 

Dengan sentuhan kreatif dan inovatif para perajin lokal, surplus susu segar ini diolah menjadi dodol susu khas Boyolali yang legit dan menggoda. Proses pembuatan dodol susu khas Boyolali ini memerlukan kesabaran dan ketelatenan yang tinggi. Susu sapi murni harus diaduk terus-menerus bersama gula kelapa pilihan, tepung ketan, dan santan kental di atas api selama berjam-jam, hingga adonan mengental sempurna dan mendapatkan tekstur yang pas. Kreasi manis ini bukan hanya sekadar camilan biasa, melainkan simbol ketahanan pangan dan kearifan lokal yang berhasil meningkatkan nilai ekonomi para peternak rakyat di kabupaten yang dijuluki "New Zealand van Java" ini.

Ketika berkesempatan mencicipi dodol susu khas Boyolali langsung di pusat oleh-oleh di kawasan Selo atau Cepogo, kamu akan merasakan tekstur yang jauh lebih lembut, kenyal, dan gurih dibandingkan dengan dodol berbahan dasar air yang biasa. Resep istimewa ini lahir dari eksperimen panjang para perajin yang berusaha mengurangi angka pembuangan susu (milk dumping) yang sering terjadi saat musim panen. 

Dodol susu khas Boyolali hadir dalam berbagai variasi rasa modern seperti pandan yang wangi, cokelat yang manis, hingga jahe yang hangat. Inovasi rasa ini sengaja diciptakan untuk menarik perhatian generasi muda, tanpa menghilangkan cita rasa asli yang kaya akan gurihnya lemak susu sapi segar dari Boyolali. Setiap gigitan dodol susu khas Boyolali menawarkan lebih dari sekadar rasa manis. Ia menceritakan tentang kehangatan sekelompok peternak yang gigih dan tak kenal menyerah, tentang aroma khas pedesaan yang menenangkan jiwa.**