Tanah Air Beta

Tradisi Jaga Makam Selasa Kliwon di Gunung Kidul Menolak Ilmu HItam

Tanah Air Beta
CLOSE
SHARE

TRANS TV - Tradisi jaga makam Selasa Kliwon di Gunung Kidul Menolak Ilmu HItam | Tradisi jaga makam Selasa Kliwon di Gunung Kidul adalah sebuah ritual yang masih dijaga dengan penuh cinta oleh masyarakat di perbukitan karst Yogyakarta. Praktik unik ini dilakukan secara bersama-sama oleh warga dan keluarga ketika seseorang meninggal pada hari yang dianggap keramat, yaitu Selasa Kliwon. 

Kepercayaan lokal meyakini bahwa jasad orang yang wafat atau lahir pada hari itu bisa menjadi target bagi mereka yang mencari ilmu hitam demi kepentingan pesugihan. "Kami percaya ada kekuatan yang ingin memanfaatkan jasad untuk hal-hal yang tidak baik, jadi kami harus menjaga," kata salah satu tetua adat di Dusun Duren. 

Saat malam tiba, suasana magis menyelimuti area pemakaman, lengkap dengan pagar bambu yang mengelilingi gundukan tanah baru dan lantunan tembang Jawa yang diyakini dapat memberikan perlindungan spiritual. Tradisi ini menunjukkan betapa masyarakat setempat masih menghargai warisan leluhur di tengah gempuran modernitas.

Selain menjaga, kompleks pemakaman di Gunung Kidul juga memiliki tradisi "kemuli", di mana batu nisan atau kijing diselimuti dengan kain mori putih, seolah memberikan selimut bagi mereka yang telah tiada. Bagi keluarga yang ditinggalkan, ritual ini bukan hanya soal mistis, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terakhir dan upaya untuk merawat ikatan emosional dengan leluhur. 

Selama masa penjagaan yang biasanya berlangsung beberapa hari, warga berkumpul di area makam, menghangatkan suasana dengan doa dan dzikir bersama hingga pagi menjelang. Mereka berusaha memastikan bahwa jasad kerabat mereka tetap tenang di peristirahatan terakhir tanpa gangguan dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. 

Tradisi Jaga Makam Selasa Kliwon di Gunung Kidul menjadi cermin kuat bahwa di tengah derasnya arus pariwisata Yogyakarta, masyarakat Gunung Kidul tetap menjaga keseimbangan hubungan spiritual antara manusia, alam, dan sejarah yang kaya.**