
TRANS TV - Berserah Diri kepada Allah Saat Ujian Berat, Antara Ikhtiar dan Tawakal | Ketika ujian hidup datang bertubi-tubi dan membuat dada terasa sesak, kita sering kali dihadapkan pada pilihan yang membingungkan. Ada yang memilih untuk bersikap pasrah karena merasa kehilangan arah dan tidak tahu harus berbuat apa. Di sisi lain, ada juga yang akhirnya menyerah dan terjebak dalam keputusasaan.
Tapi Islam mengajarkan kita tentang cara berserah diri kepada Allah saat ujian berat, sebagai jalan ketiga yang lebih mulia. Al-Quran, melalui surah Ali Imran ayat 139, memberikan semangat baru bagi jiwa yang lemah, "Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman."
Ayat ini menjadi pegangan cara berserah diri kepada Allah saat ujian berat, bahwa iman adalah modal utama untuk bangkit. Tubuh boleh lelah, tetapi jiwa harus tetap terhubung kepada-Nya, karena setiap ujian yang datang pasti membawa kebaikan di baliknya. Inilah inti dari cara berserah diri kepada Allah saat ujian berat, yaitu keyakinan bahwa Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya sendirian menghadapi badai.
Keyakinan ini semakin kuat dengan firman Allah dalam surah At-Taubah ayat 51, yang menjadi benteng tauhid bagi setiap mukmin, "Katakanlah (Muhammad), 'Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami; dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.'"
Semua rasa sakit, kekecewaan, hingga pengkhianatan yang kita alami adalah bagian dari takdir yang telah ditentukan. Cara berserah diri kepada Allah saat ujian berat juga terlihat dalam doa Nabi Ibrahim AS ketika hendak dilempar ke dalam api yang membara, "Hasbunallah wa ni'mal wakil" (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung). Pada akhirnya, cara berserah diri kepada Allah saat ujian berat adalah tentang menyerahkan hasil akhir kepada Dzat Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya.**