Kajian Hati

Motivasi Beribadah yang Paling Tinggi, Bukan Sekadar Urusan Surga Neraka

Video Thumbnail
SHARE

TRANS TV - Motivasi Beribadah yang Paling Tinggi, Bukan Sekadar Urusan Surga Neraka | Hakikat motivasi beribadah seorang mukmin ketika bersimpuh di hadapan Sang Pencipta sejatinya merupakan perpaduan harmonis antara rasa takut yang menggetarkan jiwa (khauf) dan harapan besar yang menenangkan hati (raja'). Al-Qur'an dengan indah menggambarkan bahwa para hamba pilihan adalah mereka yang beribadah dengan keseimbangan batin yang sempurna. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami."(QS. Al-Anbiya: 90). 

Ketakutan akan neraka dalam motivasi beribadah bukanlah cerminan keputusasaan, melainkan benteng pertahanan agar kaki tidak tergelincir ke dalam jurang kemaksiatan. Sementara itu, kerinduan akan surga menjadi bahan bakar spiritual yang membuat seorang hamba berlari sekencang-kencangnya menuju rida Allah. Kedua pendorong ini tidaklah menduakan tujuan ibadah, karena surga dan neraka adalah makhluk-Nya yang diciptakan sebagai manifestasi keadilan sekaligus kemurahan hati-Nya bagi manusia yang memang dibekali fitrah rasa takut dan keinginan.

Namun, di atas singgasana ketakutan dan harapan tersebut, terdapat maqam tertinggi dalam motivasi beribadah, yaitu cinta dan kerinduan untuk menatap wajah Allah SWT (mahabbah). Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kelezatan iman hanya dapat dirasakan oleh mereka yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada segala-galanya. Beliau bersabda dalam hadis shahih riwayat Bukhari dan Muslim, "Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: dijadikan-Nya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selain keduanya..."

Maka, seorang hamba yang mencapai puncak motivasi beribadah tidak lagi sekadar menghitung untung-rugi pahala dan siksa. Ia beribadah karena rasa syukur yang meluap-luap, persis sebagaimana teladan Rasulullah SAW yang tetap berdiri dalam shalat malam hingga kedua kakinya pecah-pecah. Ketika ditanya mengapa beliau melakukannya padahal dosa-dosanya telah diampuni, beliau menjawab dengan penuh ketulusan yang mengharu biru, "Tidakkah patut aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?" (HR. Bukhari). Inilah puncak motivasi beribadah yang sesungguhnya, beribadah bukan karena takut api neraka atau ingin masuk surga semata, melainkan sebagai bentuk pengabdian cinta yang tulus kepada Zat Yang Maha Indah dan layak untuk disembah.**

Photo by Alena Darmel