Kajian Hati

Cinta kepada Allah dan Rasul Membebaskan Hati dari Belenggu Dunia

Video Thumbnail
SHARE

TRANS TV - Cinta kepada Allah dan Rasul Membebaskan Hati dari Belenggu Dunia | Cinta kepada Allah dan Rasul bukan hanya sekadar rangkaian kata manis yang diucapkan dalam khutbah Jumat atau sekadar hiasan di media sosial. Di tengah kesibukan kehidupan modern, sering kali hati kita tersesat dalam lautan cinta yang berlebihan terhadap dunia, harta yang melimpah, jabatan yang membanggakan, atau hubungan antarmanusia yang terasa begitu menyenangkan. 

Islam dengan tegas mengingatkan kita bahwa puncak tertinggi dari segala rasa cinta haruslah ditujukan kepada Sang Pencipta dan utusan-Nya. Allah SWT mengingatkan kita dengan jelas dan tegas dalam Surah At-Taubah ayat 24, "Katakanlah: 'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Peringatan ini menegaskan bahwa mendahulukan makhluk di atas Khalik hanya akan berujung pada kekecewaan yang sementara dan kerugian abadi di akhirat.

Ketika cinta kepada Allah dan Rasul benar-benar mengakar dalam jiwa, ia akan melahirkan manisnya iman yang tak bisa dibeli dengan emas atau permata. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, "Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: dijadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya..." (HR. Bukhari no. 16). 

Menempatkan cinta kepada Allah dan Rasul di puncak tertinggi hati bukan berarti kita dilarang untuk menyayangi sesama. Justru sebaliknya, cinta kepada makhluk harus menjadi jembatan untuk semakin taat kepada-Nya. Dengan meletakkan cinta pada tempat yang seharusnya, seseorang tidak akan mudah hancur saat kehilangan apa yang dimilikinya di dunia. Sandaran utama hati adalah Dzat yang Maha Kekal, dan di situlah letak kebebasan batin yang sejati, mencintai tanpa terikat oleh apa yang dicintai.**

Photo by Ragnala kamera