
TRANS TV - Menyaksikan Tarian Kabasaran Khas Minahasa Pembakar Semangat Waranane | Di puncak Bukit Pulisan, Minahasa, angin berhembus kencang, membawa suara gemerincing pedang dan hentakan kaki yang seirama. Di sana, Tarian Kabasaran khas Minahasa bukan sekadar pertunjukan, melainkan sebuah panggilan jiwa yang mengingatkan kita pada zaman para waranane, pasukan elit yang menjaga tanah leluhur. Gerakannya tegas, matanya tajam, namun ada kehangatan yang mengalir di antara ritual tersebut.
Para penari mengenakan mahkota bulu burung Rangkong atau Taun, simbol keberanian dan status. Kostumnya berat, sarat makna, dari hiasan kera Yaki yang melambangkan kekuatan alam hingga tombak yang digenggam erat. Di sudut lain, para ibu duduk melantunkan nyanyian senja yang lembut, suara mereka mengisi ruang antara satu gerakan dan gerakan berikutnya. Di situlah Tarian Kabasaran khas Minahasa menunjukkan bahwa keberanian tak pernah berdiri sendiri, ia selalu berpasangan dengan cinta dan doa dari mereka yang menunggu di rumah.
Tarian Kabasaran khas Minahasa ini bukan hanya tentang panggung. Di desa-desa seperti Rurukan dan Tomohon, semangat Kabasaran hidup dalam keseharian. Sama seperti para waranane yang dulu berburu untuk melindungi, warga kini berburu tikus hutan, bukan sekadar untuk mencari nafkah, tetapi juga bagian dari tradisi menjaga keseimbangan alam.
Tikus itu bersih karena hanya memakan tumbuhan, dan menjadi konsumsi lokal yang unik. Dari sini kita bisa melihat, filosofi Kabasaran bukan hanya sekadar seni, tetapi juga cara hidup, tentang melindungi, berbagi, dan tetap hangat sebagai komunitas. Para penari dengan mahkota berat dan latihan keras itu adalah penjaga api yang tak boleh padam. Melalui setiap hentakan kaki, mereka mengisyaratkan kepada dunia, semangat Minahasa masih hidup, dan akan terus berlanjut.**