
TRANS TV - Tradisi Bapatak dalam Banyu, Ritual Pemakaman di Tengah Rawa Kalimantan | Di tengah hutan rawa Kabupaten Hulu Sungai Selatan, terdapat sebuah tradisi yang memiliki makna yang sangat dalam, yaitu tradisi Bapatak dalam Banyu. Secara harfiah, frasa ini berarti "memakamkan di dalam air", sebuah ritual yang muncul dari harmoni antara manusia dan alam.
Bagi masyarakat Suku Banjar di Desa Muning Tengah, tanah kering adalah barang langka karena lahan mereka selalu digenangi air. Alih-alih melawan alam, mereka memilih untuk berdamai. Jadi, jenazah tidak dibawa ke kuburan di darat, melainkan diantar dengan perahu menyusuri labirin sungai yang tenang, menuju tempat peristirahatan terakhirnya di dasar rawa yang damai. Ini adalah sebuah filosofi hidup, bahwa akhir perjalanan manusia bisa selaras dengan elemen yang mengelilinginya sejak lahir.
Pelaksanaan tradisi Bapatak dalam Banyu dilakukan dengan penuh ketelitian dan penghormatan. Peti mati tidak langsung ditenggelamkan begitu saja. Bagian atasnya dilapisi tanah liat agar air tidak masuk, menjaga kehormatan jenazah di dalam. Agar peti tidak terangkat kembali, karung-karung pasir diletakkan sebagai pemberat abadi.
Yang paling menyentuh adalah saat sebuah nisan kayu ditancapkan, menembus permukaan air yang tenang, menjadi penanda sekaligus penghubung antara dunia di atas dan di bawah. Di atas perahu-perahu yang mengelilinginya, sanak keluarga dan pemuka agama melantunkan doa dengan khusyuk. Tradisi Bapatak dalam Banyu mengajarkan kita tentang cara sebuah komunitas menghormati leluhur, dengan cara yang mungkin tak terbayangkan, namun penuh makna dan keautentikan yang tak tergantikan.**