
TRANS TV - Harmoni Alam di Pura Luhur Uluwatu, Simbol ketangguhan Spiritual Bali | Berdiri megah di tepi tebing curam setinggi 70 meter yang langsung menghadap ke ganasnya Samudra Hindia, Pura Luhur Uluwatu bukan hanya sekadar tempat ibadah bagi umat Hindu, tetapi juga merupakan simbol ketangguhan spiritual Bali. Pura yang didirikan pada abad ke-11 oleh Empu Kuturan dan kemudian diperluas oleh Dang Hyang Nirartha ini termasuk dalam Sad Kahyangan, enam pilar utama yang diyakini menjaga keseimbangan kosmis Pulau Dewata.
Dari sudut mana pun, pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan dramatis di mana ombak yang menghantam dinding karang menciptakan harmoni alam yang mistis dan menenangkan. Tak heran jika setiap hari ribuan wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, rela menempuh perjalanan ke ujung selatan Kabupaten Badung hanya untuk merasakan aura kesucian yang berpadu dengan keindahan cakrawala.
Daya tarik utama yang membuat suasana Uluwatu begitu istimewa adalah pertunjukan Tari Kecak yang digelar saat matahari mulai terbenam. Di sebuah teater terbuka dengan latar belakang siluet pura dan langit jingga, sekitar 50 hingga 70 penari pria melantunkan ritme cak-cak-cak secara akapela, menceritakan fragmen epik Ramayana tanpa alat musik.
Data kunjungan menunjukkan bahwa area ini menjadi salah satu titik tersibuk di Bali saat golden hour, di mana kombinasi antara warisan budaya yang kaya dan pemandangan sunset dianggap sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Namun, di balik keramaian turis, Uluwatu tetap menjaga kesakralannya, monyet-monyet yang menghuni hutan kecil di sekitarnya dipercaya sebagai penjaga setia pura, mengingatkan setiap orang yang datang untuk selalu menghargai keselarasan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.**