
TRANS TV - Badai PHK di Indonesia Sudah Reda atau Masih Mengancam? | Gelombang pemutusan hubungan kerja di Indonesia terasa seperti angin kencang yang datang bertubi-tubi, menerpa bukan hanya angka di laporan, tetapi juga langsung ke meja makan ribuan keluarga. Sektor manufaktur, tekstil, dan bahkan startup teknologi yang dulu digadang-gadang mencapai keberhasilan di masa depan, kini ikut memberhentikan karyawannya secara massal.
Badai PHK di Indonesia ini bukan sekadar istilah kosong, ia adalah suara bising mesin pabrik yang tiba-tiba terhenti, adalah tatapan kosong para orang tua yang bingung menjelaskan kepada anaknya tentang biaya sekolah. Ketika raksasa retail hingga perusahaan rintisan melakukan efisiensi besar-besaran, yang tersisa hanyalah cerita tentang daya beli masyarakat yang semakin melemah dan ketahanan ekonomi kita yang ternyata begitu rapuh di hadapan gejolak global.
Dalam situasi seperti ini, harapan satu-satunya bagi rakyat biasa adalah negara yang hadir secara nyata, bukan sekadar jadi pengamat. Pemerintah tak bisa lagi hanya mengandalkan bantuan sosial darurat. Yang dibutuhkan adalah langkah berani yang menyentuh akar masalah, yang benar-benar memihak industri yang mampu menyerap banyak tenaga kerja, dan insentif nyata bagi perusahaan yang bersedia mempertahankan pekerjanya di masa sulit.
Tanpa usaha serius untuk menciptakan ekosistem usaha yang lebih stabil, dampak badai PHK di Indonesia bukan hanya soal pengangguran sementara. Kita sedang menyemai benih ketimpangan sosial yang jauh lebih dalam, yang akan sangat sulit untuk diperbaiki oleh generasi mendatang.**