
TRANS TV - Menelusuri Jejak Sunan Gresik, Bapak para Wali Songo | Langkah kaki Maulana Malik Ibrahim di pesisir utara Jawa pada akhir abad ke-14 menandai sebuah perubahan besar dalam peta religi nusantara. Sosok yang lebih dikenal sebagai Sunan Gresik ini tidak datang dengan pasukan, melainkan membawa pendekatan kultural yang cerdas melalui strategi ekonomi dan kesehatan.
Ia memilih Desa Sembalo, yang saat itu merupakan wilayah kekuasaan Majapahit, sebagai tempat untuk mendirikan masjid dan pondok pesantren pertama, yang menjadi pusat literasi spiritual. Dengan latar belakang sebagai seorang saudagar ulung, ia berbaur di pasar untuk menjangkau masyarakat kelas bawah yang selama ini terpinggirkan, menawarkan kesetaraan dalam Islam.
Kehadirannya tidak hanya mengisi ruang spiritual, tetapi juga memberikan solusi nyata dengan memperkenalkan teknik irigasi pertanian modern dan pengobatan gratis, sebuah bentuk diplomasi kemanusiaan yang membuat ajaran Islam diterima dengan baik tanpa penolakan yang berarti.
Keberadaan Sunan Gresik sebagai bapak para Wali Songo semakin kuat dengan adanya situs sejarah di Desa Gapura, Gresik, yang hingga kini menjadi daya tarik bagi jutaan peziarah setiap tahunnya. Data sejarah mencatat bahwa keberhasilannya menembus struktur sosial Majapahit terlihat dari pemberian sebidang tanah oleh Raja untuk tempat tinggalnya, meskipun sang penguasa sendiri belum memeluk Islam.
Sunan Gresik wafat pada tahun 1419 Masehi, meninggalkan warisan berupa metodologi dakwah inklusif yang menggabungkan akulturasi budaya tanpa menghilangkan kearifan lokal. Prasasti di nisan beliau, yang memiliki kemiripan dengan nisan di Cambay, India, menjadi bukti nyata dari jaringan konektivitas intelektual dan perdagangan internasional yang ia bangun.