Favorite TV Program

SISI LAIN: Goyang Karawang Menepis Pandangan Negatif

Video Thumbnail
SHARE

TRANS TV - Goyang Karawang Menepis Pandangan Negatif | Saat mendengar kata Goyang Karawang, yang sering muncul dalam pikiran bukanlah sejarahnya yang kaya atau signifikansi budayanya, melainkan stigma negatif yang terkait dengan tarian sensual dan erotis. Kenyataannya, akar budaya Goyang Karawang jauh lebih dalam dan jauh lebih mulia daripada citra sesaat yang melekat selama bertahun-tahun.

Memahami sejarahnya sangat penting untuk mengoreksi persepsi yang bias ini. Jika kita menggali lebih dalam, kita akan menemukan bahwa istilah Goyang Karawang telah ada sejak tahun 1970-an, mencapai puncak popularitasnya pada tahun 1980-an, bahkan sebelum Lilis Karlina melambung namanya dengan lagu hitnya “Goyang Karawang” pada tahun 1990-an. 

Akar budayanya sebenarnya berasal dari seni tradisional yang lebih tua, seperti tarian topeng banjet yang dibawakan oleh penari ronggeng. Namun, seiring berjalannya waktu, kesalahpahaman mulai muncul. Para penari ronggeng, yang menjadi ikon dunia seni Karawang, sering menampilkan gerakan pinggul yang dinamis yang memikat penonton. 

Sayangnya, daya tarik ini disalahartikan oleh orang luar sebagai sesuatu yang erotis, terutama dengan praktik saweran, di mana uang sering dilemparkan ke tubuh para penari. Yang memperburuk keadaan, ketika tarian jaipong dari Bandung meledak popularitasnya pada tahun 80-an dan mengadopsi gerakan serupa, masyarakat umum secara keliru menyamakan semuanya sebagai Goyang Karawang, sebuah label yang melekat, mencapnya sebagai tarian seksi, bahkan hingga hari ini.

Pemerintah Kabupaten Karawang, bersama para budayawan, terus berusaha untuk merevitalisasi citra goyang Karawang sebagai identitas budaya yang membanggakan. Makna kata goyang dikembalikan pada esensinya, sebagai simbol dinamika dan semangat perjuangan masyarakat Karawang yang tak pernah berhenti bergerak maju.**