Tausyiah & Riwayat

BASMALAH: Bagaimana Muslim Mengendalikan Amarah?

Video Thumbnail
SHARE

TRANS TV - Bagaimana Muslim Mengendalikan Amarah? | Dalam ajaran Islam, kemampuan mengendalikan amarah bukan hanya sekadar soal etika sosial yang baik. Lebih dari itu, ini adalah ukuran ketakwaan seseorang di hadapan Sang Pencipta. Allah SWT dengan tegas menjanjikan surga yang luasnya selangit dan se bumi bagi hamba-Nya yang bisa menahan gejolak emosi yang membara. Janji agung ini tercantum dalam Surat Ali Imran ayat 134, "(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya (al-kazhimina al-ghayzh) serta memaafkan (kesalahan) orang lain." 

Menariknya, mengendalikan amarah dalam ayat ini ditempatkan sejajar dengan dua sifat mulia lainnya, sikap pemaaf dan perbuatan ihsan (kebaikan). Ini adalah tingkatan spiritual yang sangat tinggi. Kekuatan mengendalikan amarah bahkan bisa mengubah musuh yang paling benci menjadi teman yang setia.

Nabi Muhammad SAW menekankan bahwa ukuran sejati kekuatan seorang Muslim bukanlah diukur dari kemampuan bertarung di arena atau ketahanan fisik yang tampak. Sebaliknya, standar kemuliaan terletak pada kemampuan seseorang untuk mengendalikan ego saat amarah mulai membara. Dalam hadis shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, beliau bersabda, "Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat, tapi orang yang kuat adalah yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah."

Untuk membantu mengendalikan amarah, Islam memberikan panduan manajemen emosi yang terstruktur dan bertahap. Prosesnya dimulai dari langkah lisan hingga fisik, pertama, membaca taawudz untuk berlindung dari godaan setan yang memicu kemarahan, kemudian diam sejenak untuk menghindari ucapan yang bisa menyakiti orang lain, dilanjutkan dengan berwudu menggunakan air yang penuh berkah, dan terakhir, mengubah posisi dari berdiri ke duduk atau berbaring untuk meredakan agresi.

Dengan disiplin dalam mengendalikan amarah ini, seorang Muslim diajarkan bahwa setiap detik kemarahan yang berhasil ditahan bukanlah sebuah kerugian. Sebaliknya, itu adalah investasi berharga menuju keridhaan Allah dan ketenangan jiwa yang abadi, baik di dunia maupun di akhirat.**

Photo by Yogendra Singh on Unsplash