
TRANS TV - Dampak Anak Diasuh Orang Lain Menurut Pandangan Islam | Di tengah tekanan karier dan ekonomi, menitipkan anak diasuh orang lain menjadi pilihan yang tak terhindarkan bagi banyak keluarga modern. Namun, Islam mengingatkan kita bahwa tanggung jawab utama dalam membentuk karakter anak tetap ada di tangan orang tua.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." Hadis ini menegaskan bahwa orang tua adalah arsitek utama akidah dan akhlak anak.
Ketika anak diasuh orang lain tanpa pengawasan yang ketat, ada kekhawatiran akan terjadinya degradasi kedekatan emosional, yang dalam Al-Quran disebut sebagai fitrah kecintaan manusia. Tanpa kehadiran fisik dan bimbingan langsung, cita-cita memiliki anak sebagai qurrata a’yun atau penyejuk pandangan mata bisa terhambat, karena kasih sayang orang tua memiliki frekuensi spiritual yang tak tergantikan.
Sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad SAW juga pernah anak diasuh orang lain , yaitu oleh Halimah As-Sa'diyah di perkampungan Bani Sa'ad. Para ulama menjelaskan bahwa hal ini dilakukan demi mendapatkan lingkungan yang lebih baik untuk perkembangan bahasa dan karakter beliau.
Pelajaran penting yang bisa diambil adalah menitipkan anak hanya diperbolehkan jika tujuannya untuk mendapatkan pendidikan yang lebih berkualitas, seperti yang dilakukan Imam Syafi'i yang dititipkan ibunya kepada ahli ilmu, bukan karena orang tua ingin lepas tangan.
Al-Quran melalui surah An-Nisa ayat 9 mengingatkan, "Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar".
Oleh karena itu, keputusan untuk membiarkan anak diasuh orang lain harus melalui pertimbangan yang matang, memastikan bahwa pengasuh memiliki kualitas agama dan adab yang baik. Investasi terakhir seorang Muslim bukanlah harta yang melimpah, melainkan anak yang dididik langsung dengan tangan dan doa orang tuanya, karena merekalah yang kelak akan menyematkan mahkota cahaya di akhirat nanti.**