TRANS TV - Perjalanan menuju Trawas, Kabupaten Mojokerto, terasa berbeda ketika kebun-kebun buah mulai menggantikan kepadatan permukiman, dan di Desa Ketapanrame, salah satu tujuan yang menarik perhatian adalah kebun jeruk kumquat Nagami di Kusuma Farm. Pohonnya relatif pendek, rimbun, dan dipenuhi buah berbentuk lonjong seukuran ibu jari, sebuah pemandangan yang jarang ditemukan di kawasan permukiman urban.
Jeruk kumquat Nagami merupakan varietas kumquat yang buahnya lazim disantap bersama kulitnya: bagian luar terasa manis, sementara daging buahnya menyimpan sensasi asam yang segar, menciptakan kombinasi rasa yang unik dan menggugah selera. Di kebun itu, pengunjung tidak hanya memetik buah, tetapi juga melihat langsung bagaimana tanaman buah yang kerap dianggap tanaman hias dikembangkan menjadi komoditas sekaligus daya tarik wisata edukasi.
Nilai jeruk kumquat Nagami di Mojokerto tidak berhenti pada pengalaman petik buah semata, melainkan berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang memberdayakan warga desa. Warga mengolahnya menjadi sirup, selai, puding, cookies, dan produk turunan lain yang memberi ruang bagi usaha mikro untuk tumbuh di sekitar desa wisata, sebuah model pemberdayaan yang menghubungkan kebun, pengalaman wisata, dan ekonomi lokal secara berkelanjutan.
Perawatannya pun menuntut ketekunan; tanaman jeruk kumquat Nagami membutuhkan paparan matahari penuh, media tanam berdrainase baik, penyiraman teratur, pemupukan, serta pemangkasan agar tetap produktif, sebuah disiplin berkebun yang menunjukkan bahwa keberhasilan budidaya tidak datang secara instan. Dari perjalanan singkat di antara pohon-pohon mungil itu, tampak bahwa keragaman hayati baru benar-benar bernilai ketika dirawat dan diolah tanpa memutus hubungan dengan lingkungan serta masyarakat yang menghidupinya.**