Kajian Hati

Cara Menjadi Ikhlas, Proses Panjang Mengembalikan Tujuan Hati kepada Allah

Video Thumbnail
SHARE

TRANS TV - Cara Menjadi Ikhlas, Proses Panjang Mengembalikan Tujuan Hati kepada Allah | Menjadi insan yang ikhlas bukan perkara menghilangkan keinginan untuk dihargai manusia, melainkan belajar menempatkan keridaan Allah di atas pujian dan penilaian manusia. Al-Qur'an menegaskan bahwa inti pengabdian seorang hamba adalah memurnikan ibadah hanya untuk-Nya. Allah berfirman, "Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama" (QS Al-Bayyinah: 5).

Cara menjadi ikhlas sejatinya bukan hanya terlihat dalam ibadah yang besar, tetapi juga dalam pekerjaan, menolong sesama, bersedekah, mencari nafkah, bahkan dalam kebaikan yang tidak diketahui siapa pun. Ketika tidak ada manusia yang melihat, seorang yang ikhlas tetap berusaha berbuat baik karena ia menyadari bahwa Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati. Al-Qur'an juga menggambarkan keluasan sikap tersebut melalui firman-Nya, "Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam." (QS Al-An'am: 162).

Rasulullah memberikan ukuran yang sangat mendasar tentang perkara ini melalui hadis yang diriwayatkan Umar bin Khattab r.a., "Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan." (HR Bukhari, no. 54). Pesan tersebut mengajarkan bahwa cara menjadi ikhlas perlu dimulai dari kebiasaan memeriksa niat sebelum, ketika, dan setelah melakukan kebaikan. Tidak mudah, sebab hati manusia dapat berubah; amal yang semula dilakukan karena Allah bisa saja kemudian disusupi keinginan mendapat pujian.

Karena itu, belajar ikhlas adalah proses panjang untuk terus mengembalikan tujuan kepada Allah. Kita boleh bekerja dengan sungguh-sungguh, menerima penghargaan, atau mendapatkan kepercayaan dari orang lain, tetapi hati tidak menggantungkan nilai diri pada semua itu. Ketika tujuan utama tetap mencari rida Allah, kebaikan tidak berhenti hanya karena tidak ada yang memuji. Di situlah cara menjadi ikhlas sekaligus latihan batin, melakukan yang benar bukan karena ingin dilihat manusia, melainkan karena yakin bahwa Allah selalu melihat.**