TRANS TV - Mengadu kepada Allah ketika Semua Pintu Pertolongan Manusia Tertutup | Mengadu kepada Allah menjadi jalan terakhir sekaligus paling utama ketika badai kehidupan menerjang dan seluruh pintu pertolongan manusia tertutup rapat, dunia seolah berubah menjadi tempat yang paling sunyi dan menyesakkan dada. Saat sahabat karib mulai menjaga jarak dan sanak saudara tak lagi mampu memahami beratnya beban pundak kita, di situlah seorang hamba diuji untuk mengalihkan seluruh ratapan dan keluh kesahnya langsung kepada Sang Pemilik Semesta.
Mengadu kepada Allah SWT sambil menumpahkan air mata bukan tanda kelemahan, melainkan wujud kepasrahan mutlak yang justru mengetuk pintu rahmat-Nya yang terluas. Pengaduan tulus yang dibarengi linangan air mata kerendahan hati ini pernah dicontohkan oleh para nabi, salah satunya terekam dalam kebisuan sabar Nabi Ya'qub alaihissalam tatkala menghadapi kepedihan berlapis.
Puncak kepasrahan dan pengaduan batin yang hanya ditujukan kepada Dzat Yang Maha Mendengar ini diabadikan Allah SWT dalam Surah Yusuf ayat 86, "Dia (Ya'qub) menjawab, 'Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui'." Ayat ini mengajarkan bahwa seluas apa pun samudera masalah yang menghimpit, curahan hati seorang mukmin tidak akan pernah sia-sia jika bermuara di hadapan-Nya.
Keindahan bermunajat di sepertiga malam terakhir saat air mata berlinang di atas sajadah menjadi momen paling syahdu di mana jarak antara seorang hamba dan Tuhannya menjadi begitu dekat. Rasulullah SAW menegaskan bahwa Allah SWT senantiasa memeluk jiwa-jiwa yang remuk redam dan memprioritaskan doa orang-orang yang terzalimi atau terabaikan oleh dunia. Janji kasih sayang dan pengabulan doa bagi hamba yang datang dalam kondisi hancur dan bersimpuh tulus disabdakan dalam sebuah hadis shahih riwayat Imam Tirmidzi dan Abu Dawud dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, "Tiga doa yang mustajab dan tidak ada keraguan di dalamnya: doa orang yang terzalimi, doa seorang musafir, dan doa orang tua terhadap anaknya."
Ketika manusia tak lagi sudi mendengarkan keluh kesahmu, ketahuilah bahwa air mata penyesalan dan kepasrahan yang tumpah di hadapan Allah justru menjadi saksi bisu diangkatnya derajatmu, mengubah setiap luka duniawi menjadi tetesan ketenangan yang menyembuhkan jiwa dari dalam. Pada akhirnya, mengadu kepada Allah adalah bentuk terapi batin paling mulia yang tak pernah mengenal kata sia-sia.**
Photo by Michael Burrows, Illustration style generated by AI