TRANS TV - Khasiat Wedang Lahang, Bukan Pengganti Pengobatan Medis | Klaim yang sudah ada sejak lama menyebutkan bahwa wedang lahang, minuman tradisional yang terbuat dari nira aren segar, dapat menyembuhkan anyang-anyangan. Ternyata, ini tidak sepenuhnya mitos, meskipun secara medis ada beberapa hal yang perlu diluruskan. Rasa tidak nyaman atau nyeri saat berkemih, yang dalam istilah medis dikenal sebagai disuria, biasanya disebabkan oleh Infeksi Saluran Kemih (ISK) akibat bakteri Escherichia coli. Khasiat Wedang Lahang sebagai minuman tradisional memang memiliki dasar ilmiah yang logis untuk meredakan gejala awal.
Khasiat Wedang Lahang secara empiris terletak pada sifat diuretik alami dari nira aren yang dapat meningkatkan volume produksi urine, serta kandungan senyawa antiinflamasi dan asam askorbat (vitamin C) yang membantu meningkatkan keasaman urine. Efek bilasan (flushing effect) dari peningkatan frekuensi berkemih inilah yang membantu mengeluarkan sebagian bakteri dari saluran kemih, sehingga penderita merasakan gejala anyang-anyangan mereka berangsur membaik setelah menikmati kesegaran wedang lahang.
Namun, penting untuk memahami batas antara meredakan gejala dan menyembuhkan secara tuntas. Dr. Thomas Hooton, seorang pakar penyakit infeksi dari University of Miami Miller School of Medicine, mengingatkan bahwa cairan diuretik atau pengobatan alternatif hanya berfungsi sebagai terapi suportif untuk membilas bakteri yang ada di permukaan, bukan sebagai agen antimikroba utama. Jika anyang-anyangan disebabkan oleh infeksi bakteri yang sudah menyebar ke jaringan epitel yang lebih dalam, khasiat Wedang Lahang tidak akan cukup efektif.
Kandungan gula alami (sukrosa) yang sangat tinggi pada wedang lahang, yang bisa mencapai lebih dari 80 persen dari total padatan, justru bisa menjadi tempat berkembang biaknya bakteri jika kita mengonsumsinya secara berlebihan. Jadi, khasiat Wedang Lahang memang sangat baik sebagai pertolongan pertama untuk hidrasi dan membantu membersihkan saluran kemih. Namun, jika gejala terus berlanjut, intervensi medis dengan antibiotik yang tepat dari dokter tetap menjadi langkah utama yang harus diambil.**