Islam Itu Indah

Memahami Keutamaan Tolong Menolong agar Ikhlas karena Allah

Islam Itu Indah
CLOSE
SHARE

TRANS TV - Memahami Keutamaan Tolong Menolong dalam Islam agar Ikhlas karena Allah | Dalam ajaran Islam, tolong-menolong bukan hanya sekadar tindakan sosial biasa, melainkan merupakan cerminan dari keimanan yang mendalam. Setiap langkah yang kita ambil seharusnya berlandaskan keikhlasan yang tulus. Di zaman sekarang, kita sering melihat orang terjebak dalam krisis kepedulian, bahkan membantu dengan niat tersembunyi demi kepentingan pribadi. 

Allah SWT dalam Surah Ghafir ayat 14 mengingatkan kita untuk beribadah dan beramal dengan mukhlisina lahuddin, ikhlas semata-mata karena Allah. Memahami Keutamaan Tolong Menolong dalam Islam mengingatkan kita bahwa kita hanyalah "wakil" atau perantara dari pertolongan Allah SWT. 

Ketika kita membantu orang lain, sebenarnya kita sedang memohon agar Allah membalas kebaikan tersebut, sesuai dengan janji Rasulullah SAW bahwa Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya. Prinsip inilah yang membuat hati kita tetap ringan dan tidak merasa terbebani saat diminta bantuan, karena imbalan sejati hanya kita harapkan dari Sang Pencipta.

Ujian keikhlasan yang paling nyata justru datang dari lingkungan terdekat, yaitu dalam berbakti kepada orang tua. Allah SWT dengan tegas mengaitkan perintah untuk menyembah-Nya dengan perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua.

Seperti yang tercantum dalam Surah Al-Isra ayat 23, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” 

Oleh karena itu, prinsip dalam menolong keluarga bukanlah soal balas budi, melainkan pengabdian total tanpa batas. Dengan menjadikan Allah sebagai satu-satunya pemberi imbalan, seorang hamba akan terhindar dari rasa ujub dan tetap teguh dalam kebaikan, meskipun berada di tengah lingkungan yang mungkin kurang menghargai niat tulus tersebut.**

Photo by Neil Thomas on Unsplash