Goodbye Jobless

Perajin Perak Yogyakarta Menjaga Tradisi yang Tak Lekang oleh Zaman

Goodbye Jobless
CLOSE
SHARE

TRANS TV - Perajin Perak Yogyakarta Menjaga Tradisi yang Tak Lekang oleh Zaman | Menelusuri gang-gang tua di Kotagede, Yogyakarta, rasanya seperti melangkah ke dalam lorong waktu. Di sinilah denyut nadi perajin perak Yogyakarta masih terasa kuat, mewarisi keterampilan yang telah diturunkan dari generasi ke generasi sejak zaman Mataram Islam. 

Masih banyak toko-toko kerajinan perak yang menjadi penjaga tradisi ini. Mereka tetap setia menggunakan teknik filigree, seni merangkai benang-benang perak kecil menjadi perhiasan yang rumit dan memukau. Yang membuatnya semakin istimewa, di tengah era serba mesin ini, setiap cincin, kalung, atau gelang dikerjakan dengan tangan. Seorang perajin perak Yogyakarta bahkan bisa menyelesaikan pola yang rumit dalam waktu singkat, menunjukkan bahwa keterampilan ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan sudah menjadi bagian dari jiwa mereka.

Namun, keberadaan para perajin perak Yogyakarta ini lebih dari sekadar urusan ekonomi. Ada misi budaya yang lebih dalam, menjaga peradaban yang hilang dari Mataram agar tidak terlupakan oleh waktu. Hal ini terlihat dari proses produksi yang masih berakar pada cara-cara tradisional. Mulai dari penyatuan rangka perak dengan teknik soldering, perebusan yang memakan waktu puluhan menit, hingga proses sangling yang menggunakan buah lerak untuk membuat logam berkilau secara alami. 

Melalui sentuhan-sentuhan tradisional ini, setiap produk yang lahir dari tangan-tangan terampil di Kotagede membawa cerita tersendiri. Mereka adalah perajin perak Yogyakarta yang tidak hanya menciptakan perhiasan, tetapi juga merawat ingatan kolektif sebuah kota.**