Favorite TV Program

GRIYA UNIK: Bangunan di Kota Gede Peninggalan Era Kerajaan

Video Thumbnail
SHARE

TRANS TV - Bangunan di Kota Gede Peninggalan Era Kerajaan | Menjelajahi Kotagede di Yogyakarta laksana melintasi lorong waktu yang membawa kita kembali ke masa kejayaan Islam Jawa abad ke-16. Sebagai bekas ibu kota Kesultanan Mataram Islam, kawasan cagar budaya ini berhasil merawat memori kolektifnya melalui deretan bangunan kuno unik yang arsitekturnya tetap lestari di tengah gempuran modernitas. Kotagede menjadi saksi bisu peradaban yang masih hidup hingga kini.

Berjalan menyusuri gang-gang sempitnya, mata kita akan dimanjakan oleh keunikan rumah tradisional joglo yang berjejer rapi, lengkap dengan struktur dinding gepak kayu jati kuno dan gerbang masuk berukir atau paduraksa. Lanskap ini semakin magis dengan keberadaan sisa-sisa reruntuhan benteng pertahanan cepuri dan struktur kompleks Masjid Gedhe Mataram yang menampilkan akulturasi visual kental; perpaduan estetika Hindu-Buddha pada gerbang pura bentar yang bersanding harmonis dengan filosofi arsitektur Islam Jawa.

Daya pikat Kotagede yang sesungguhnya terletak pada ketangguhan masyarakat lokal dalam mempertahankan hukum adat arsitektur kuno melalui konsep tata ruang yang organik. Salah satu contoh keunikan yang masih tegak berdiri adalah rumah dinasti perak abad ke-19 dengan langgam Between-Two-Gates (Antara Dua Gerbang), sebuah perkampungan mini di mana rumah-rumah berhadapan dalam satu lorong tertutup yang mencerminkan ikatan komunal yang intim. Komitmen pelestarian ini tidak sekadar bertumpu pada aspek fisiknya saja, melainkan didorong oleh regulasi cagar budaya yang ketat serta kesadaran kolektif warga.

Komitmen pelestarian di Kotagede terus berlanjut dengan merawat fungsi aslinya sebagai rumah tinggal sekaligus pusat kerajinan perak legendaris. Bagi seorang petualang dunia, menyaksikan bagaimana ukiran kuno, tembok batu bata ekspos tanpa semen (kosod), dan pilar-pilar jonic kolonial masih menyatu harmonis dengan keseharian generasi modern Yogyakarta adalah sebuah bukti autentik bahwa sejarah tidak harus mati demi kemajuan zaman. Kotagede adalah laboratorium hidup yang membuktikan tradisi dan modernitas bisa berjalan beriringan.**