Favorite TV Program

JELANG SIANG: Keunikan Tradisi Telinga Panjang Wanita Suku Dayak

Video Thumbnail
SHARE

TRANS TV - Keunikan Tradisi Telinga Panjang Wanita Suku Dayak | Tradisi telinga panjang suku Dayak yang ada di pedalaman Kalimantan adalah warisan leluhur yang kaya akan simbol identitas, status sosial, dan filosofi keindahan yang autentik. Dikenal dengan nama Telingaan Arua, tradisi ini dijalankan oleh sub-suku Dayak Bahau, Kayan, dan Kenyah. Proses estetika ini dimulai sejak bayi melalui ritual Mucuk Penikng, di mana daun telinga ditindik dan kemudian dihiasi dengan anting perak atau tembaga berat yang disebut *belaung*.

Seiring bertambahnya usia, jumlah anting yang dikenakan dalam tradisi telinga panjang suku Dayak ditambahkan secara bertahap, sehingga beban logam tersebut secara perlahan menarik daun telinga hingga melentur panjang. Bagi wanita Dayak, panjangnya daun telinga bukan hanya menunjukkan ketahanan fisik dan keindahan wajah, tetapi juga melambangkan kesabaran, kedewasaan jiwa, dan tingginya kehormatan keluarga dalam adat setempat. Tradisi ini menjadi bukti bahwa dalam budaya Dayak, kecantikan memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar penampilan fisik.

Meskipun memiliki nilai sejarah dan budaya yang sangat berharga, tradisi telinga panjang suku Dayak kini menghadapi ancaman kepunahan, seiring dengan berkurangnya generasi yang mempraktikkan Telingaan Arua. Berdasarkan kajian etnografi dan pendataan komunitas budaya di Kalimantan Timur, jumlah perempuan dengan daun telinga panjang kini diperkirakan hanya tinggal beberapa puluh orang, mayoritas di antaranya berusia di atas 70 hingga 80 tahun dan tinggal di daerah hulu sungai seperti Mahakam Ulu dan Malinau.

Modernisasi, masuknya sistem pendidikan formal, serta perubahan persepsi estetika di kalangan generasi muda menjadi faktor utama pendorong terhentinya regenerasi tradisi telinga panjang suku Dayak sejak dekade 1960-an. Kendati demikian, jejak visual para pingan, sebutan perempuan berdaun telinga panjang, tetap dipelihara sebagai simbol keteguhan kearifan lokal Nusantara yang merefleksikan harmoni antara keindahan, identitas kesukuan, dan penghormatan terhadap akar sejarah leluhur.**