TRANS TV - Susu Kerbau, Seberapa Bermanfaatkah? | Di Indonesia, susu kerbau sering kali tidak sepopuler susu sapi, padahal jika kita lihat dari segi gizi, susu ini memiliki keunggulan yang sulit dibantah. Ini membuat penting bagi kita untuk memahami manfaatnya lebih dalam. Menurut catatan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), kadar lemak susu kerbau rata-rata dua kali lipat dari susu sapi, dengan rasio lemak-protein sekitar 2:1 dan proporsi kasein yang lebih tinggi, ini adalah alasan teknis mengapa susu kerbau sangat dicintai oleh para pembuat keju mozzarella di Italia.
Sebagai perbandingan, susu sapi biasanya mengandung lemak 3–4 persen dan protein sekitar 3,5 persen, sementara susu kerbau bisa mencapai 6–8 persen lemak dengan protein sekitar 4–5 gram per 100 gram. Kalorinya pun lebih tinggi, sekitar 97–100 kkal per 100 ml, dibandingkan dengan sekitar 67 kkal pada susu sapi. Sebuah tinjauan ilmiah yang dipublikasikan di jurnal pangan hewani juga menunjukkan bahwa susu kerbau memiliki kandungan kalsium dan fosfor yang lebih baik per takaran saji. Menariknya, meskipun lebih berlemak, kadar kolesterol per 100 gram lemaknya justru lebih rendah dibandingkan susu sapi.
Tetapi harus diakui bahwa lebih padat gizi tidak selalu berarti lebih sehat untuk semua orang, ini adalah nuansa yang sering kali terlupakan dalam promosi produk kesehatan. Dewan Medis Internasional Ac?badem dalam ulasan berbasis bukti mereka mengingatkan bahwa tingginya kalori dan lemak jenuh dalam susu kerbau membuatnya tidak selalu menjadi pilihan yang tepat untuk semua orang—terutama bagi mereka yang sedang menjaga berat badan atau profil lipid darah. Selain itu, susu kerbau juga mengandung laktosa dan protein susu, sehingga bagi mereka yang alergi terhadap susu sapi atau intoleransi laktosa, tetap perlu berhati-hati saat mengonsumsinya.
Sebaliknya, untuk anak yang sedang tumbuh, atlet, atau orang dengan kebutuhan kalori tinggi, kepadatan gizi susu kerbau justru jadi keunggulan nyata. Di Sumatera Barat, susu kerbau bahkan sudah lama diolah menjadi dadiah, difermentasi alami dalam ruas bambu selama satu hingga dua hari tanpa starter apa pun. Riset Universitas Andalas dan sejumlah jurnal nasional mengidentifikasi puluhan strain bakteri asam laktat pada dadiah yang berpotensi sebagai probiotik, dari menurunkan kolesterol darah sampai menahan bakteri patogen di saluran cerna.**