TRANS TV - Daging Tokek, Benarkah Bekhasiat sebagai Obat? | Selama bertahun-tahun, keyakinan seputar daging tokek sebagai primadona pengobatan tradisional telah mengakar kuat di masyarakat, terutama di Asia. Mulai dari klaim mampu menyembuhkan penyakit kulit kronis, asma, hingga yang paling fenomenal adalah sebagai obat peningkat stamina pria dan bahkan terapi HIV/AIDS. Keyakinan ini didasari oleh pengalaman empiris turun-temurun, seperti pengakuan warga yang mengaku sembuh dari gatal-gatal setelah mengonsumsi daging tokek bakar.
Harga tokek yang melambung tinggi, bahkan sempat viral kisah tokek seberat 64 kilogram yang dijual dengan harga fantastis miliaran rupiah, semakin mengukuhkan status hewan melata ini sebagai komoditas ajaib di pasar gelap. Namun, di balik hiruk-pikuk klaim tersebut, para ilmuwan dan tenaga medis profesional masih bersikap sangat hati-hati karena minimnya bukti klinis yang kuat.
Meskipun terdapat beberapa studi pendahuluan yang menjanjikan, khasiat daging tokek belum dapat dikategorikan sebagai fakta medis yang mutlak. Sebuah tim riset dari Henan University of China pernah melaporkan bahwa ekstrak tokek menunjukkan efek positif terhadap sel tumor ganas pada tikus percobaan, yang dipublikasikan dalam World Journal of Gastroenterology.
Studi lain dalam Journal of Ethnopharmacology juga menemukan potensi ekstrak tokek dalam meredakan peradangan saluran napas pada hewan. Sayangnya, semua ini masih sebatas uji pre-klinis pada hewan, belum ada penelitian farmakologi skala besar yang membuktikan efektivitas dan keamanannya pada tubuh manusia.
Departemen Kesehatan Filipina secara resmi menyatakan bahwa penggunaan tokek untuk asma hanyalah mitos. Oleh karena itu, hingga ada penelitian lebih lanjut dan standarisasi yang jelas (seperti layaknya obat herbal terstandar atau fitofarmaka), mengonsumsi daging tokek sebagai obat tetap menyimpan risiko bagi kesehatan.**