Favorite TV Program

Dr OZ: Makanan Berlemak, Mengapa Harus Dibatasi?

Video Thumbnail
SHARE

TRANS TV - Makanan Berlemak, Mengapa Harus Dibatasi? | Makanan berlemak seringkali menjadi kambing hitam dalam dunia kesehatan. Konsumsi lemak yang berlebihan, terutama lemak jahat, terbukti secara ilmiah menjadi salah satu pemicu utama berbagai penyakit degeneratif. Data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa penyakit kardiovaskular, yang dipicu oleh kolesterol tinggi akibat pola makan tinggi lemak jenuh dan lemak trans, masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia, mencapai sekitar 17,9 juta jiwa setiap tahunnya.

Lemak jahat menempel di dinding pembuluh darah, menyumbat aliran darah, dan memicu penyakit jantung, stroke, hingga hipertensi. American Heart Association (AHA) merekomendasikan pembatasan asupan lemak jenuh hingga kurang dari 6% dari total kalori harian untuk menurunkan risiko penyakit jantung. Epidemi obesitas global juga tidak lepas dari pola konsumsi makanan berlemak dan gula yang berlebihan, menciptakan siklus kesehatan yang merugikan bagi jutaan orang.

Tubuh kita tetap membutuhkan asupan lemak sehat untuk penyerapan vitamin dan produksi hormon. Lemak trans dari makanan berlemak olahan adalah musuh terbesar yang harus dihindari, karena meningkatkan kolesterol jahat (LDL) dan menurunkan kolesterol baik (HDL). Sementara itu, konsumsi lemak jenuh dari daging merah dan produk susu full-fat juga perlu dibatasi. Dr. Robert Eckel menekankan pentingnya mengganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh sehat dari alpukat, kacang-kacangan, dan minyak zaitun.

Kunci utamanya bukanlah menghindari lemak sama sekali, melainkan menjadi konsumen cerdas dengan memilih lemak sehat, mengatur porsi, dan memperhatikan cara pengolahan. Memasak dengan cara dikukus, direbus, atau dipanggang, serta memperbanyak konsumsi sayur, buah, dan biji-bijian utuh adalah strategi sederhana namun sangat efektif untuk menikmati makanan lezat tanpa mengorbankan kesehatan jangka panjang.**

photo by xframe.io