
TRANS TV - Makan Daging Setengah Matang, Bahayakah? | Makan daging setengah matang, atau yang lebih dikenal dengan istilah medium rare, memang memberikan sensasi tekstur yang lembut dan rasa yang sulit ditolak, terutama bagi para penggemar steak. Namun, di balik kenikmatannya, para ahli kesehatan memperingatkan bahwa kebiasaan ini bisa membawa risiko serius.
Seorang ahli gizi pernah menegaskan bahwa daging akan lebih bermanfaat bagi kesehatan jika dimasak hingga matang, karena proses memasak dapat membunuh bakteri yang mungkin ada akibat penyembelihan atau penanganan. Daging setengah matang berisiko mengandung bakteri berbahaya seperti Salmonella, Listeria, Campylobacter, dan E. coli, yang dapat menyebabkan keracunan makanan dengan gejala seperti diare, mual, muntah, kram perut, bahkan dalam kasus parah bisa merusak ginjal.
Infeksi parasit seperti cacing pita (taeniasis) juga bisa mengintai, terutama dari daging babi setengah matang yang dapat menyebabkan sistiserkosis, dengan gejala seperti nyeri otot, demam, hingga kejang. Kelompok rentan seperti ibu hamil, anak-anak di bawah lima tahun, lansia, dan orang dengan sistem imun yang lemah sangat disarankan untuk menghindari makan daging setengah matang karena risiko komplikasi yang lebih tinggi.
Di sisi lain, ada beberapa sumber yang menyebutkan bahwa makan daging setengah matang memiliki kelebihan dari segi nutrisi. Daging sapi setengah matang diklaim lebih kaya akan protein dan zat besi, serta mengandung asam lemak omega-3 dan asam linoleat terkonjugasi yang berfungsi sebagai antioksidan dan membantu menurunkan kolesterol.
Namun, ahli diet Michelle Jaelin mengingatkan bahwa daging yang dimasak justru mengandung protein yang lebih tinggi, dan risiko mengonsumsi protein mentah jauh lebih besar dibandingkan dengan potensi manfaatnya. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga memperingatkan bahwa daging yang dimasak kurang matang dapat mengandung bakteri hingga parasit berbahaya yang menyebabkan penyakit bawaan makanan.**