
TRANS TV - Bahaya Pestisida yang Harus Dikeahui | Kecelakaan akibat pestisida masih menjadi ancaman serius bagi para petani di Indonesia. Mereka yang bertugas menyemprotkan bahan kimia ini ke lahan pertanian kerap mengalami berbagai keluhan kesehatan, mulai dari pusing-pusing saat atau setelah menyemprot, muntah-muntah, mulas, mata berair, hingga kulit terasa gatal dan menjadi luka. Dalam kasus yang lebih parah, korban bisa mengalami kejang-kejang, pingsan, dan tidak sedikit yang berakhir dengan kematian.
Bahaya pestisida ini umumnya terjadi karena kurangnya perhatian terhadap keselamatan kerja dan rendahnya kesadaran bahwa bahan kimia tersebut adalah racun, bukan sekadar obat tanaman. Banyak petani mengabaikan penggunaan alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan, atau pakaian khusus saat menyemprot. Mereka juga kerap tidak mengikuti dosis yang dianjurkan dan cenderung meningkatkan takaran dengan asumsi semakin banyak semakin ampuh memberantas hama.
Padahal, paparan pestisida tidak hanya berdampak akut seperti keracunan, tetapi juga efek kronis jangka panjang. Organofosfat dan karbamat, jenis insektisida yang umum digunakan, dapat menyebabkan gangguan saraf, detak jantung tidak normal, kesulitan bernapas, dan dalam kasus tertentu berakibat fatal. Kelompok yang paling rentan terhadap bahaya pestisida adalah anak-anak, ibu hamil, dan lansia karena sistem kekebalan tubuh mereka yang lebih lemah.
Untuk mengurangi risiko, para ahli menekankan pentingnya penggunaan pestisida sesuai dengan aturan yang tertera pada kemasan, penerapan prinsip 6 tepat (tepat jumlah, jenis, waktu, tempat, mutu, dan harga), serta penggunaan alat pelindung diri yang memadai. Alternatif yang lebih ramah lingkungan seperti penerapan pengelolaan hama terpadu (PHT) dan penggunaan biopestisida juga perlu didorong agar dampak negatif terhadap kesehatan petani dan lingkungan dapat ditekan seminimal mungkin.**