TRANS TV - Sakit Tenggorokan pada Anak, Antibiotik Bukan Solusi Utama? | Sakit tenggorokan pada anak sering kali bikembuat in orang tua khawatir, padahal kebanyakan kasusnya disebabkan oleh infeksi virus yang biasanya bisa sembuh dengan sendirinya. Beberapa virus yang bisa menyebabkan faringitis antara lain rhinovirus, adenovirus, virus Epstein-Barr, serta influenza A dan B, dengan rhinovirus dan adenovirus menjadi yang paling umum. Sementara itu, bakteri Streptococcus pyogenes (yang juga dikenal sebagai group A Streptococcus atau GAS) hanya berkontribusi sekitar 20 hingga 30 persen dari kasus sakit tenggorokan pada anak, biasanya terjadi pada anak usia 5 hingga 15 tahun, dan jarang terjadi pada anak di bawah 3 tahun. Ini berarti sekitar 70–80 persen sakit tenggorokan pada anak tidak memerlukan antibiotik dari awal, penting bagi orang tua untuk tidak terburu-buru meminta resep antibiotik.
Untuk penanganan awal di rumah, umumnya tidak perlu antibiotik. Memberikan cairan hangat yang cukup, makanan yang lembut, dan memastikan anak cukup istirahat bisa membantu mereka merasa lebih nyaman. Madu bisa dicoba untuk anak di atas usia satu tahun, dengan takaran sekitar setengah hingga satu sendok teh untuk anak usia 1 sampai 5 tahun. Namun, manfaatnya perlu dipahami dengan baik: bukti terkuat menunjukkan bahwa madu efektif untuk meredakan batuk, dengan tinjauan Cochrane 2018 yang menyimpulkan bahwa madu kemungkinan besar lebih baik dalam mengurangi gejala batuk dibandingkan tanpa terapi. Bukti untuk sakit tenggorokan masih terbatas, dan satu penelitian pada orang dewasa tidak menemukan perbedaan nyeri tenggorokan setelah lima hari. Penting untuk diingat, madu tidak boleh diberikan kepada anak di bawah satu tahun karena risiko botulisme bayi, aturan ini harus dipatuhi.
Penggunaan obat harus dilakukan dengan bijak dan sesuai dengan petunjuk dari tenaga kesehatan. Pedoman klinis di Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar infeksi saluran napas atas tidak memerlukan antibiotik, karena antibiotik tidak efektif melawan virus dan penggunaan yang sembarangan bisa menyebabkan resistensi. Antibiotik termasuk dalam kategori obat keras yang tidak bisa dibeli tanpa resep. Namun, jika sakit tenggorokan pada anak disebabkan oleh GAS, antibiotik justru sangat diperlukan untuk mencegah komplikasi seperti demam reumatik. Karena gejalanya sering kali sulit dibedakan dari infeksi virus hanya dengan melihat, dokter dapat melakukan uji usap tenggorokan. Uji ini tidak perlu dilakukan jika gejala jelas menunjukkan infeksi virus, seperti batuk, pilek, atau mata merah. Untuk meredakan demam atau nyeri yang mengganggu tidur, parasetamol dengan dosis 10 hingga 15 mg per kilogram berat badan per pemberian, maksimal empat kali sehari, adalah pilihan umum; ibuprofen 10 mg per kilogram berat badan juga bisa menjadi alternatif, kecuali untuk bayi di bawah tiga bulan atau anak yang mengalami dehidrasi.
Orang tua sebaiknya segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika sakit tenggorokan disertai demam lebih dari tiga hari, anak tampak lemas, kesulitan bernapas, kesulitan menelan, atau air liur terus menetes. Dalam kasus tanpa tanda bahaya, faringitis biasanya akan membaik dalam waktu sekitar dua minggu. Pesan pentingnya jelas: sakit tenggorokan pada anak bukanlah alasan untuk langsung meminta antibiotik, tetapi juga bukan alasan untuk mengabaikan tanda-tanda bahaya. Kebiasaan di rumah, cukup cairan, istirahat, dan pemantauan gejala, harus tetap dilakukan bersamaan dengan konsultasi tenaga kesehatan, yang merupakan fondasi utama dalam menjaga kesehatan anak.**
Photo by Artem Nedzelskiy on Unsplash