Favorite TV Program

BASA-BASI: Gangguan Pencernaan pada Anak dan Cara Menanganinya

Video Thumbnail
SHARE

TRANS TV - Gangguan Pencernaan pada Anak dan Cara Menanganinya | Gangguan pencernaan pada anak ternyata lebih umum terjadi daripada yang banyak orang tua kira. Sebagian besar kasus ini bukanlah penyakit dalam arti medis yang biasa, melainkan dikenal sebagai *functional gastrointestinal disorder* atau FGID, gangguan fungsi saluran cerna yang tidak menunjukkan kelainan struktural saat diperiksa. Sebuah tinjauan sistematis yang dipimpin oleh Angharad Vernon-Roberts dari University of Otago, Selandia Baru, menganalisis data dari hampir 19 ribu anak di berbagai negara dan menemukan bahwa prevalensi median FGID mencapai 22,2 persen pada anak di bawah usia empat tahun dan 21,8 persen pada anak berusia empat hingga delapan belas tahun.

Sembelit fungsional dan dispepsia fungsional adalah dua diagnosis yang paling sering dijumpai pada anak-anak usia sekolah. Angka-angka ini penting karena menyoroti satu hal yang sering terlewatkan oleh orang tua, keluhan seperti sakit perut berulang, kesulitan buang air besar, atau rewel saat makan pada anak jarang berdiri sendiri sebagai masalah organik. Sebaliknya, hal ini lebih sering mencerminkan pola makan, kebiasaan toilet, dan bagaimana anak merespons rasa tidak nyaman di perutnya.

Berita baiknya, penanganan gangguan pencernaan pada anak yang terbukti efektif sering kali cukup sederhana dan tidak menakutkan. Panduan praktik klinis terbaru yang disusun oleh tim gastroenterologi anak di Italia, di bawah pimpinan Erasmo Miele dari Universitas Federico II Napoli, menekankan penggunaan polietilen glikol atau PEG sebagai terapi utama untuk sembelit fungsional kronis pada anak. Ini dipadukan dengan edukasi bagi orang tua bahwa perilaku menahan tinja pada anak, yang sering dianggap sebagai "keras kepala", sebenarnya adalah faktor pemicu utama yang perlu diatasi terlebih dahulu sebelum obat pencahar dapat bekerja dengan baik.

Sementara itu, kelompok riset dari Amsterdam UMC yang selama bertahun-tahun mengembangkan kriteria diagnosis Rome IV terus mengingatkan bahwa tanda bahaya seperti darah di tinja, penurunan berat badan, atau muntah hijau wajib segera dibawa ke dokter karena di luar kategori fungsional. Bagi kebanyakan kasus ringan sehari-hari, resepnya justru klasik, cukup serat dan cairan, jadwal makan teratur, waktu duduk di toilet yang tidak tergesa-gesa, serta orang tua yang tidak panik berlebihan setiap kali si kecil mengeluh perutnya "aneh", karena kecemasan orang tua, menurut sejumlah studi FGID, kerap justru memperpanjang episode gangguan pencernaan pada anak, bukan menyembuhkannya.**