Undercover

Benarkah Makanan Pedas Bisa Memperpanjang Umur? Simak Dulu Kata Ahlinya

Video Thumbnail
SHARE

TRANS TV - Benarkah Makanan Pedas Bisa Memperpanjang Umur? Simak Dulu Kata Ahlinya | Klaim bahwa makanan pedas bisa memperpanjang umur ternyata bukan sekadar mitos, meskipun tidak sepenuhnya benar seperti yang dibayangkan oleh para penggemar sambal. Sebuah penelitian besar yang melibatkan setengah juta orang di Tiongkok selama tujuh tahun, yang dipimpin oleh epidemiolog Lu Qi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health dan dipublikasikan di jurnal BMJ, menemukan bahwa pria yang mengonsumsi makanan pedas setidaknya sekali seminggu memiliki risiko kematian 10 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang melakukannya.

Untuk perempuan, penurunan risikonya berkisar antara 12 hingga 22 persen, tergantung seberapa sering mereka mengonsumsi makanan pedas, dengan efek paling signifikan pada mereka yang makan pedas tiga kali seminggu atau lebih. Temuan serupa juga muncul dari Amerika Serikat, tim dari University of Vermont yang menganalisis data 16 ribu orang selama hampir dua dekade, yang dipublikasikan di PLoS ONE, mencatat penurunan angka kematian sebesar 13 persen pada mereka yang mengonsumsi cabai merah, terutama berkat berkurangnya kasus stroke dan serangan jantung. Diduga, capsaicin, senyawa yang memberikan sensasi pedas di lidah, berperan penting di sini, bekerja melalui reseptor TRP dan memiliki efek anti-inflamasi serta membantu mengatur kadar gula darah.

Namun, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa makanan pedas bisa memperpanjang umur dan sambal adalah kunci untuk hidup lebih lama, karena semua penelitian ini bersifat observasional, yang berarti hanya menunjukkan korelasi, bukan hubungan sebab-akibat yang jelas. Kardiolog Bo Xu dari Cleveland Clinic, yang memimpin analisis gabungan data dari 570 ribu orang di Amerika, Italia, Tiongkok, dan Iran, dan dipresentasikan di ajang ilmiah American Heart Association 2020, mengakui bahwa timnya terkejut menemukan adanya asosiasi penurunan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular hingga 26 persen dan kematian akibat kanker 23 persen pada para penggemar cabai. 

Ia juga menegaskan bahwa alasan di balik temuan ini masih belum jelas dan belum bisa dijadikan rekomendasi klinis.Ada pula catatan penting yang jarang disorot media, dalam studi Vermont, orang yang doyan cabai justru cenderung merokok, minum alkohol, dan berpenghasilan lebih rendah, faktor-faktor yang seharusnya menaikkan risiko kematian, bukan menurunkannya. Artinya, klaim makanan pedas bisa memperpanjang umur ini kemungkinan besar menumpang pada gaya hidup dan pola makan yang lebih kaya sayur dan protein, bukan berdiri sendiri sebagai penyebab.**

Photo by Wan on Unsplash