Rumpi (No Secret)

Kisah Faank Wali Diragukan Calon Mertua Hingga Ujian Azan dan Imam Salat

Video Thumbnail
SHARE

TRANS TV - Kisah Faank Wali Diragukan Calon Mertua Hingga Ujian Azan dan Imam Salat | Kiprah vokalis band Wali, Faank, kini perlahan mulai diikuti oleh putra sulungnya, Farabi, yang belakangan ini sering mencuri perhatian publik saat tampil menyanyi di atas panggung. Meski kadang merasa cemas, terutama setelah insiden di mana Farabi lupa lirik lagu ayahnya sendiri, Faank Wali sudah mempersiapkan mental anaknya dengan sangat baik sebelum terjun ke dunia hiburan.

Menyadari betapa menggoda dan berbahayanya industri entertainment, pria yang merupakan lulusan UIN ini memilih untuk menekankan pendidikan pesantren agar Farabi memiliki dasar agama yang kuat sebagai pegangan. Ketegasan Faank Wali dalam hal agama, terutama dalam membaca Al-Qur'an, ternyata berakar dari pengalaman masa lalunya. Sebelum terkenal, saat masih berjuang sebagai musisi berambut gondrong, ia pernah diragukan oleh calon mertua dan harus melewati semacam ujian khusus dengan mengumandangkan azan dan menjadi imam salat untuk membuktikan keseriusannya.

Melihat kembali perjalanan Wali, kehadiran Farabi pada tahun 2007 diakui Faank sebagai berkah yang membuka jalan terang, terutama setelah setahun kemudian band ini sukses merilis album yang meledak di pasaran. Namun, perjalanan selama belasan tahun ini tidak selalu dipenuhi dengan tepuk tangan penonton, karena ada satu momen duka yang sangat mendalam yang mengubah pandangan sang vokalis tentang kehidupan, peristiwa tsunami yang merenggut nyawa sahabat mereka, komedian Aa Jimmy, beserta tim manajemen.

Peristiwa kelam itu meninggalkan luka batin yang membuahkan lagu pilu ciptaan Apoy berjudul "Wasiat Sang Kekasih". Saking berat dan dalamnya memori yang menempel pada lirik tersebut, Faank mengaku tak sanggup dan selalu berat hati jika harus menyanyikannya secara live. Tamparan realita tentang betapa dekat dan tak tertebaknya kematian itu kini membuat Faank Wali lebih banyak merenung, sering menitipkan wasiat kepada sang istri, serta memfokuskan sisa energinya untuk merintis sebuah yayasan pendidikan yang kelak akan diteruskan oleh anak-anaknya.**