TRANS TV – Hati-Hati! Menggunakan Pelet Ternyata Termasuk Perbuatan Syirik | Praktik menggunakan pelet atau mantra pengasihan untuk memikat hati calon pasangan secara instan masih sering dipandang remeh sebagian orang sebagai sekadar ikhtiar asmara. Padahal, dalam syariat Islam, tindakan memanfaatkan kekuatan gaib atau bantuan jin untuk memengaruhi perasaan orang lain tergolong bentuk sihir yang diharamkan secara mutlak.
Rasulullah SAW secara tegas memasukkan mantra pemikat dalam kategori syirik yang merusak akidah seorang muslim. Dalam hadis shahih riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Sesungguhnya jampi-jampi (ruqyah syirkiyyah), azimat-azimat, dan pelet (tiwalah) adalah syirik." Menyandarkan harapan jodoh pada ritual magis tidak hanya mencederai kemurnian tauhid, tetapi juga mencerminkan ketidakridhaan terhadap ketetapan Allah SWT yang telah mengatur takdir setiap hamba. Praktik ini pun berpotensi mendatangkan mudarat berkepanjangan, bukan hanya bagi pelaku tetapi juga bagi korban yang terpengaruh mantra tersebut.
Usaha mendapatkan pasangan sejati seharusnya ditempuh melalui jalan yang diridhai, yakni memohon langsung kepada Pemilik Hati serta memperbaiki kualitas diri dan akhlak. Allah SWT mengingatkan mukmin untuk senantiasa bertawakal dan menjauhi jalan-jalan yang dimurkai-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah ayat 102 mengenai bahaya ilmu sihir, "Dan mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan dirinya dan tidak memberi manfaat kepadanya."
Mengikat hubungan di atas pondasi sihir pelet hanya akan melahirkan kepalsuan dan ketidakberkahan, sebab kasih sayang sejati lahir dari kehendak Allah, bukan dari paksaan mantra yang berisiko merusak akal dan keimanan. Menggunakan pellet bukanlah solusi instan yang membawa kebahagiaan, melainkan pintu masuk menuju masalah yang lebih kompleks di kemudian hari. Melalui pintu doa dan ikhtiar yang bersih, seorang muslim diajarkan untuk meyakini bahwa jodoh terbaik akan hadir pada waktu dan cara yang diredhai-Nya, tanpa perlu menempuh jalan pintas yang justru menjerumuskan pada kemurkaan Ilahi.**