Kajian Hati

Dosa Bahaya Lisan yang Menggugurkan Pahala Amal

Video Thumbnail
SHARE

TRANS TV - Dosa Bahaya Lisan yang Menggugurkan Pahala Amal | Dalam ajaran Islam, lisan memiliki peranan yang sangat penting. Satu ucapan yang kita lontarkan bisa menjadi penentu keselamatan atau kebinasaan kita di akhirat. Allah SWT dengan tegas mengingatkan umat beriman untuk selalu mengontrol kata-kata mereka, seperti yang tercantum dalam Surah Al-Ahzab ayat 70, "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar." Kesalahan yang diakibatkan oleh lisan bukanlah hal sepele, karena ucapan yang buruk bisa merusak hubungan sosial dan menghilangkan berkah dalam hidup.

Peringatan ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW dalam hadis shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam." Ketika seseorang lengah dan mengikuti hawa nafsu dalam berbicara, seperti ghibah, fitnah, kebohongan, atau makian, lisan tersebut bisa menghapus pahala dari amal baik yang telah dikumpulkannya. Setiap kata yang kita ucapkan selalu dalam pengawasan malaikat, jadi ketelitian dalam berbicara adalah cerminan dari keimanan yang tulus.

Secara khusus, menjaga lisan ini menjadi fondasi moral yang sangat ditekankan bagi wanita muslimah. Menjaga lisan harus sejalan dengan komitmen untuk menjaga kehormatan dan auratnya. Dalam konteks hukum dan akhlak Islam, lisan yang tidak terjaga sering kali menjadi pintu masuk bagi fitnah sosial yang dapat merusak kehormatan keluarga dan masyarakat. Rasulullah SAW pernah mengingatkan dalam sebuah hadis riwayat Bukhari bahwa beliau melihat mayoritas penghuni neraka adalah kaum wanita, dan salah satu penyebab utamanya adalah ketidakmampuan mereka mengendalikan lisan dari mengkufuri kebaikan suami dan banyak mengutuk.

Oleh sebab itu, kesempurnaan penuangan syariat bagi wanita tidak hanya diukur dari ketertutupan auratnya secara fisik sesuai perintah agama, melainkan juga dari kesantunan tuturnya yang terhindar dari ucapan sia-sia. Perpaduan antara lisan yang terjaga dan aurat yang tertutup rapi inilah yang menjadi benteng hakiki bagi seorang muslimah dalam meraih keridaan ilahi. Dosa bahaya lisan mengingatkan kita bahwa setiap kata memiliki bobot dan tanggung jawab yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta. Dengan menjaga lisan, seorang muslim tidak hanya melindungi dirinya sendiri tetapi juga menjaga keharmonisan masyarakat di sekitarnya.**