TRANS TV - Antusiasme Gen Z ke Museum, Apa yang Membuat Menarik? | Coba tanya anak muda Jakarta soal rencana akhir pekan mereka sekarang, jangan kaget kalau jawabannya bukan lagi mal atau kafe kekinian, tapi museum. Fenomena ini bukan sekadar anekdot di media sosial. Data resmi dari Indonesia Heritage Agency (IHA) mencatat lonjakan kunjungan museum yang berada di bawah naungannya sebesar 218 persen sepanjang 2025, dari 704.506 pengunjung pada 2024 melonjak menjadi 1.536.375 pengunjung setahun berikutnya. Museum Nasional Indonesia, yang sempat tutup pasca-kebakaran dan baru dibuka kembali Oktober 2024 setelah revitalisasi, mencatat kenaikan paling dramatis: dari 242.752 pengunjung menjadi 756.092 pengunjung dalam setahun.
Ada penjelasan sederhana soal siapa yang mendorong angka ini, bahwa ternyata mereka yang berusia 18–24 tahun sudah menentukan sendiri mau pergi ke mana yang bukan sekadar school trip lagi. Bahkan sekarang hashtag seperti museum date sudah sangat populer, terutama di Jakarta. Anak-anak muda kini datang ke museum bukan karena hanya diwajibkan guru untuk tugas, tapi karena mereka sendiri yang memilihnya sebagai destinasi kencan, ngobrol bareng teman, atau sekadar healing dari rutinitas kota.
Yang menarik, IHA bahkan sampai kewalahan meladeni antusiasme ini. Museum Passport, semacam buku stempel koleksi yang bisa dikumpulkan setiap kali mengunjungi museum berbeda, awalnya dicetak 5.000 eksemplar dan ludes terjual hanya dalam tiga hari. IHA terpaksa mencetak ulang 15.000 eksemplar tambahan, sehingga totalnya kini mencapai 20.000 kopi, dan desainnya sendiri disusun berdasarkan hasil survei langsung terhadap selera Gen Z dan Gen Alpha, mulai dari pemilihan warna hingga konsep visualnya.
Tren serupa juga tercermin di level kota: data Provinsi DKI Jakarta mencatat kunjungan museum di ibu kota tembus 1,7 juta orang sepanjang 2024, dengan Museum Wayang menjadi salah satu yang melonjak dua kali lipat dalam rentang Januari-Februari dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Fenomena ini tentu berbeda jauh dari citra museum yang selama bertahun-tahun lekat dengan kesan gelap, sepi, dan membosankan, dan kini justru berubah menjadi tempat nongkrong yang, anehnya, terasa pas untuk generasi yang tumbuh besar dengan gawai di tangan. Antusiasme Gen Z ke museum adalah perubahan besar yang mengubah wajah pariwisata budaya di Indonesia, sekaligus membuktikan bahwa museum mampu beradaptasi dengan selera generasi muda tanpa kehilangan esensi edukasinya.**